Kamis, 27 Februari 2014

 I'm So Sorry, Nadine


Galang berjalan cepat menuju pintu keluar lobby apartementnya, tak dihiraukannya panggilan Nadine di belakang. Hatinya sedang panas dan cemburu berat, pokoknya dia harus pergi dari sini dulu. Secepatnya.

"Galang! Tunggu aku, dengerin penjelasanku dulu jangan marah begitu, Galang!" teriak Nadine kemudian. Nadine berlari kecil tak dihiraukannya pandangan mata orang-orang yang melihat mereka berdua bertengkar. Akhirnya Nadine sampai juga menyusul Galang dengan napas terengah dia menarik lengan Galang dan memutar tubuhnya  untuk menghadapnya. Galang menatapnya penuh amarah.
"Apalagi yang mau di jelaskan, HA! aku lihat sendiri kamu pelukan dengan Aldo di depan pintu Apartementmu tadi, aku belum buta aku masih melihat dengan jelas kalian berdua!" sembur Galang emosi matanya menatap tajam Nadine. Wajah tampan itu Nampak merah padam menahan emosi.
"Kamu salah paham Lang, Aldo Cuma mengantarku pulang karena aku sakit, aku mau nelpon kamu tapi kamu kayaknya sedang sibuk di kantor , jadi aku nggak mau mengganggumu." Nadine masih berusaha menyakinkan Galang, dia tidak menyangka Galang bisa semarah ini. Kepalanya berdenyut keras dan badannya panas tapi dia menahannya hanya untuk memberikan penjelasan pada Galang. Dia tidak peduli sakitnya lagi.

"Sudah, aku nggak mau dengar apa-apa lagi! Terserah kau saja" katanya sambil mengibaskan tangannya dari cengkeraman tangan Nadine dan masuk ke dalam mobilnya dan menghilang di tikungan.
Nadine menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, air matanya perlahan turun deras. Hatinya sakit ternyata Galang sama sekali tidak mempercayainya penuh dengan curiga.  Nadine mengusap airmatanya cepat dan berjalan gontai kembali ke apartementnya. Lalu dia meihat Aldo berdiri mematung di depan lobby.
"Maaf ya Do, Atas kelakuan Galang tadi. Terima kasih sudah mengantarku." Katanya lesu
"Tidak apa-apa kok, kamu masuk saja istirahat dan minum obatnya ya, aku pulang dulu." Aldo tersenyum lembut. Nadine mengangguk dan berjalan menuju lift.
 Aldo yang memperhatikan kedua orang itu dari tadi hanya bisa geleng kepala tapi ada senangnya sedikit melihat Galang dan Nadine bertengkar heboh seperti itu. Jadi ia ada kesempatan mendekati Nadine lagi soalnya dia sudah lama menyukai gadis itu, tapi tampaknya Nadine mencintai Galang yang notabenenya sahabat Nadine dari kecil. Tapi ia tidak tega melihat Nadine menderita seperti itu, "dasar Galang berengsek aku rebut Nadine baru tahu rasa dia,"umpat Aldo dalam hati

Nadine membanting tubuhnya di tempat tidur, dia menumpahkan tangisnya di atas bantal. Menangis sepuasnya. Tak di hiraukannya obat sakit kepala dan demam yang dia beli tadi di apotik, pikirannya hanya tertuju pada Galang. Dia tak mengira Galang akan semarah itu padanya, selama ini Galang tidak pernah marah kepadanya, dia selalu lembut dan sayang padanya. Kenapa hanya kejadian tadi marahnya sampai mengerikan seperti itu. Padahal mereka sudah bertunangan harusnya Galang lebih percaya padanya. Bukankah kalau mengingat reputasi Galang yang playboy itu harusnya dia yang pantas di cemburui bukannya Nadine. Ini malah kebalik, Nadine menghela napas resah. Dia tahu Galang cemburu tapi setidaknya dia mendengarkan penjelasannya dulu, Nadine menghela napas panjang.
Kemudian Nadine bangkit menuju dapur mengambil air putih buat minum obatnya, setelah itu ia mengganti bajunya dengan piyama yang nyaman dan merebahkan diri lagi di tempat tidur, mencoba memejamkan mata istirahat. Nampaknya obat itu bekerja sangat baik Nadine akhirnya tertidur pulas di tambah dia capek habis menangis tadi.
Esok paginya Nadine terbangun masih merasakan badannya panas, lebih baik ia menelpon kantor ijin tidak masuk dulu. Kemudian Nadine meraih ponselnya dan melihat layarnya, sama sekali tak ada pesan atau telepon dari Galang. Nadine menarik napas panjang, Yah sudahlah tampaknya Galang masih marah pikirnya lalu dia menelepon atasannya untuk ijin sakit hari ini, setelah memperoleh ijin, dia berencana akan istirahat saja tidak akan kemana-mana harus cepat sembuh. Nadine keluar sebentar melihat apartemen Galang, dan menekan tombol code password apartemen Galang dan melongok  kedalam memperhatikan ruang itu. Gelap. Tampaknya Galang tidak pulang semalam. Hati Nadine kecewa sekali pada laki-laki itu.
"Tidak telpon, tidak pulang, apa maunya dia. Rutuk Nadine kesal. Ah sudahlah lebih baik aku tidur lagi saja.


Galang tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, pikirannya di penuhi oleh kejadian dua hari lalu , ada rasa menyesal karena telah bersikap kasar pada Nadine, seharusnya dia mendengarkan penjelasan Nadine dulu bukan main pergi begitu saja. Sudah dua hari ini dia menginap di rumah ayahnya, dia tidak sanggup bertemu dengan Nadine dulu. Tiba-tiba seseorang menerobos masuk ruanganya, dan ternyata orang itu Aldo.
"Maaf Pak Galang, saya sudah mencoba menahan orang ini tapi dia memaksa masuk." Sekretarisnya memandangnya panic.
"Sudah, tidak apa-apa biarkan saja, kamu boleh keluar," Ujar Galang
"Aku mau bicara," Aldo memandang Galang sengit.
"Bicara soal apa?" Galang menatap tajam Aldo
"Aku mau meminta Nadine darimu, aku ingin kau putuskan pertunangan kalian!" Aldo berkata lantang.
"Kau?!.." Apa maksudmu?!" Galang sontak  berdiri dari kursi kerjanya dan memutari meja kerjanya lalu berdiri berhadapan dengan Aldo.
"Kau mengerti maksudku kan?." Aldo tertawa sinis.
"Kau!... beraninya kau?!" Galang menyambar kerah baju Aldo "Jangan coba-coba menggangguku dengan Nadine, tau sendiri akibatnya." Galang mendesis marah.
Tapi nampaknya Aldo tak peduli "Kan kau sendiri yang membuang Nadine, kalau kau tak mau lagi dengan dia, aku bersedia menerima Nadine, toh tidak sulit membuat Nadine melupakanmu. Lagipula kami sekantor bisa bertemu tiap hari, jadi kesempatanku untuk merebut Nadine lebih besar." Kata Aldo tersenyum licik
"Jangan mimpi kau!" emosi Galang meninggi dia melayangkan pukulan ke wajah Aldo hingga membuat lelaki itu terpental kebelakang dengan bibir pecah. Napas Galang memburu.
Aldo berdiri kembali, darah mengucur dari bibirnya yang terkena tinju Galang. "Harusnya kau tidak membiarkan dia begitu saja, kemana rasa sayangmu sebagai sahabat sekaligus tunangannya. HA! Kau egois hanya memikirkan dirimu sendiri, seharusnya kau dengarkan penjelasannya dulu bukan main tinggal begitu saja, hanya masalah sepele tapi kau bertindak berlebihan." Cerocos Aldo . "Waktu itu aku mengantarkannya pulang," lanjut Aldo lagi. Dia sakit demam parah, ketika sampai di Apartementnya dia hampir pingsan, untung aku berhasil menangkap tubuhnya kalau tidak tentu ia akan sukses mencium lantai, saat itulah  kau melihat kami dengan pandangan hati buta karena cemburu kan?" Aldo tertawa mengejek.
Galang terdiam mencerna kata-kata Aldo. Galang mengakui Aldo benar, dia menyesal telah bertindak kasar tanpa pikir panjang lagi. Harusnya dia tidak marah dan pergi begitu saja, dia mengenal Nadine dari dulu dan tahu Nadine tidak akan mengkhianatinya dan selalu ada untuknya. Galang mengacak-acak rambutnya frustasi.Dia terduduk di Sofa tamunya.
"Nadine sudah dua hari tidak ke kantor, ijin sakit" Suara Aldo melunak " Tadi aku menjenguknya dan tidak tega melihatnya. Dia masih demam aku menawarinya mengantarnya ke dokter tapi Nadine menolak, dia hanya ingin tidur saja katanya,Wajahnya pucat tanpa gairah hidup, kau yang membuatnya seperti itu, sudah sakit demam ditambah sakit hati oleh kamu makin parah malah ." Aldo menyalahkan Galang. Dia sengaja melebih-lebihkan
Galang tersentak dia segera menyambar kunci mobilnya dan menghambur keluar ruang kerjanya, tanpa memperdulikan keberadaan Aldo di sana. Galang mencoba menghubungi ponsel Nadine tapi tidak diangkat, dicobanya lagi masih tetap sama. Galang panic dia menekan tombol lift dengan tidak sabar. Hatinya berdebar resah apa mungkin Nadine sudah berbalik membencinya sehingga telepon darinya tidak diangkat. Rasa cemas mulai menyapanya. Nadine...


Nadine terbangun dari tidurnya matanya terasa berat untuk dibuka,  dan melirik jam di dinding kamarnya pukul tiga sore, nampaknya dia sudah terlalu lama tidur. Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya, dan Astaga! Nadine hampir melompat kaget melihat sosok yang duduk di kursi meja riasnya sedang menatapnya penuh kerinduan.
"Galang! Apa aku bermimpi, Nadine mengucek-ucek matanya untuk memastikan ia tidak salah lihat. Ternyata benar itu Galang!
"Nadine.." suara Galang tertahan terdengar ingin menangis.
"Galang? Apa yang kau lakukan di kamarku? Kapan kau datang?" Tanya Nadine bingung dan menatap Galang yang tampak kuyu.
"Baru saja, tapi aku lihat kau masih tidur nyenyak, aku tidak tega membangunkanmu," Ujar Galang pelan, lalu berdiri mendekati Nadine yang masih terdiam dalam posisi duduk di tempat tidurnya. Galang berlutut di hadapan  Nadine meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya, menatap wajah cantik yang pucat itu. Mata Nadine yang bulat bening itu menatapnya bingung.
Galang menarik napas dalam-dalam "Maafkan aku, Nad. Aku sungguh menyesal, Aku bersalah padamu, Aku sudah marah, Aku cemburu buta. Itu karena aku takut kehilanganmu" katanya pelan "Aku sangat mencintaimu." Galang kemudian melepaskan genggaman tangannya langsung memeluk pinggang Nadine,  dan merebahkan kepalanya di pangkuan Nadine. Galang menangis tanpa suara. Menangis di depan Nadine bukanlah hal yang tabu baginya, dulu juga ia pernah menangis seperti ini ketika Ibu kandungnya meninggal dunia.
Nadine hanya diam, air matanya turun perlahan, dia membelai lembut rambut Galang dengan penuh sayang dan cinta. Hatinya trenyuh. "Aku sudah memaafkanmu kok, Lang." jawab Nadine pelan. "Aku... aku tidak marah, ucap Nadine terbata-bata. "Cuma sedih terrnyata kamu tidak percaya padaku."
Galang mengangkat kepalanya dari pangkuan Nadine, lalu menangkup wajah Nadine dengan kedua telapak tangannya yang besar dia mengusap air mata gadis itu dengan kedua ibu jarinya.
"Aku percaya padamu hanya saja saat itu pikiran pendekku lebih dominan. Hei,Jangan menangis lagi  Ah kamu jelek kalau menangis."bujuk Galang karena melihat Nadine masih menangis terisak.
"Kamu juga jelek kalau nangis, tuh."Nadine tertawa geli walau air mata masih menggenang di matanya.
"Jadi kita sama-sama jelek ya kalau nangis," Galang terkekeh.
Akhirnya keduanya tertawa geli. Nadine lupa akan demamnya, tapi nampaknya sudah tidak demam lagi.
Galang kemudian terdiam dan menatap penuh kasih dan kerinduan pada Nadine. Hatinya dipenuhi kelegaan. Sangat lega.
" I miss you.Bunny, " Ujar Galang lembut
"I miss you too, Lang."
Galang tersenyum kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir merah Nadine, sontak Nadine terkejut bukan kepalang, selama ini Galang tidak pernah menciumnya seperti seintim ini , hanya sebatas mencium dahinya.Ini ciuman pertama mereka sejak resmi memutuskan berpacaran dan bertunangan! Nggak percaya kan? hehehe. Ciuman lembut Galang ternyata mampu mengobrak- abrik emosi Nadine.
Seluruh tulang Nadine seakan-akan lenyap begitu saja. Ciuman Galang semakin bergairah dan menuntut. Nadine mencengkeram rambut Galang membalas ciuman lelaki itu, bahkan keduanya tidak menyadari tubuh mereka berdua sudah terbaring di atas ranjang Nadine. Tangan Galang mulai membuka kancing atas piyama Nadine. Tapi kemudian Galang menghentikan ciuman panas dan invasi tangannya dan menempelkan dahinya pada dahi Nadine.
"Bunny." Napas Galang terengah-engah "Besok kamu ambil cuti sekalian ya?" ucap Galang menyeringai licik. Kemudian bangkit dari atas tubuh Nadine dan berdiri.
"Kenapa? Besok aku masuk sudah dua hari aku ijin. " bantah Nadine wajahnya merona merah karena kejadian tadi.
"Besok kita nikah!" jawab Galang tersenyum. "Harus besok!! Aku sudah tidak sabar ingin segera memilikimu. Kamu miliku hanya milikku!" katanya posesif sambil mencium dahi Nadine lembut.
Nadine hanya bisa bengong. Tapi tak mampu menolak ultimatum itu.

                                                             END.

Men hate to cry,
They rarely ever do.
But when a man cries over,
I can guarantee
He loves you.
Because men only cry when
They lose something
Or are afraid of losing
Something
That they love as much or more
Than themselves.

By Anymous

Hehehee lagi mumet ide iseng2 bikin yang satu ini. Geje ya ceritanya wkwkkw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.