I LOVE YOU,NADINE
Nadine menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berada di ruang tamu
apartemennya. Rasa capek pulang lembur sampai malam begini
tulang-tulangnya serasa mau lepas. "Mandi dulu, ah." Seraya bangkit dan
berjalan gontai. Dengan langkah diseret lesu dia menuju kamar mandi yang
ada di kamar tidurnya.
Ting....tong....ting ...tong
Suara bel yang tak sabar di pintu apartemen Nadine membuatnya batal ke kamar mandi, lalu memutar tubuhnya menuju pintu.
ting tong....ting...,tong ting...tong
Suara bel makin tidak sabar. Nadine yakin hanya satu orang yang bisa menekan bel tidak sabar seperti itu.
"Ya, tunggu sebentar!" teriak Nadine kesal.
Dan
begitu pintu dibuka, Galang sahabat sejak kecilnya berdiri tegak
menjulang di depan pintunya, wajah tampannya tersenyum gembira, kedua
tangannya direntangkan lebar dan langsung memeluk Nadine erat.
"Bunny, aku pulang, aku kangen kamu." langsung memeluk Nadine erat-erat sampai Nadine hampir kehabisan napas.
"Lepasin
Lang!, aku nggak bisa napas ishhh," protes Nadine kesal sambil berusaha
melepaskan tangan besar Galang yang memeluknya . "Kapan kamu pulang
dari Malaysia? Kok nggak kasih kabar ke aku?" katanya sewot. Sudah
hampir sebulan Nathan bertugas di Malaysia memantau cabang perusahaan
milik keluarganya.
"Aku sengaja kasih kejutan ke kamu Bunny," sahut Galang sambil mengacak-acak rambut Nadine. "Kamu kangen sama aku ya?" senyum jahilnya mengembang manis. Bunny
adalah panggilan sayang Galang pada Nadine, karena Nadine sangat
menggemari segala sesuatu berbentuk kelinci. Kalau ditanya alasannya
jawabnya hanya 'Lucu' katanya.
"Ya, aku kangen," katanya
"Ah, beneran kamu kangen sama aku, Nad," mata Galang nampak berbinar gembira
"Ya,
kangenlah, sama...." Nadine terdiam seperti berpikir "Oleh-oleh dari
Malaysia, mana oleh-olehnya," ujar Nadine sambil menadahkan tangannya.
"Waduhh,"
kata Galang sambil menepuk dahinya, ketinggalan di mobil ada di dalam
koper nanti aja ya males turun kebawahnya." Jawabnya sambil memamerkan
senyum sejuta voltnya.
"Terus ngapain kamu kemari malam-malam?"
"Ishhh judes amat sih sama sahabat sendiri, Aku lapar buatin makanan dong, Nad," rengek Galang manja.
"Buat sendiri, aku capek mau mandi terus tidur."
"Yah, kok gitu sih, aku kangen sama masakan kamu, Bunny."
Katanya sambil menarik lengan Nadine. "Kamu tega sama sahabatmu yang
tercinta yang tampan sedunia tiada tandingan ini? aku kelaparan sejak
dari bandara tadi."
Nadine paling sebal sama kelakuan narsis Galang yang satu ini tidak ada yang menyamainya sama sekali.
"Lang,
apartemenmu kan ada di sebelah pulang aja sekalian, terus pesan DO kan
beres," ujar Nadine seperti menasehati anak kecil. "Sudahlah, kalau kamu
mau itu ada spageti dengan saus instannya kamu buat sendiri aja, aku
mau mandi!" ujar Nadine akhirnya mengalah, lalu berjalan menuju ke
kamarnya.
Galang tersenyum jahil "Bunny, pastiin
kamar mandi kamu dikunci ya, kalo nggak ntar aku ikut mandi lho,
kebetulan aku sudah gerah banget!" teriak Galang dari dapur.
"Awas kalo berani, aku lempar pakai sandal kamu ntar! Dasar mesum! "ancam Nadine sambil mengacungkan sandal kamarnya.
"Hahahha., galak bener ntar nggak ada cowok yang mau sama kamu lho," godanya Galang.
"Biarin!"
Galang
tersenyum geli, Nadine adalah sahabatnya paling dekat tomboy dan tidak
suka dandan seperti gadis-gadis lain. Padahal dia cantik matanya besar,
dihiasi bulu mata yang lentik, cocok dengan wajahnya yang bulat telur,
hidungnya mancung dan juga kulitnya yang putih bersih. Namun, itulah
kecantikannya asli bukan karena riasan tebal seperti wanita-wanita
kebanyakan. Tapi sepertinya Nadine sama sekali tidak menyadari
kecantikannya sendiri.
Setelah mandi Nadine dan merasa
segar lalu dia menuju dapur dan melihat di atas meja makan sudah
tersedia spaghetti yang sudah jadi berserta dua buah piring lengkap
dengan susu coklatnya.
"Ayo makan, Nad," ajak Galang sambil menaruh spagethi ke piring Nadine
Dan akhirnya mereka makan berdua dengan lahap ternyata keduanya kelaparan.
Tak
lama kemudian mereka berdua sudah duduk di atas sofa sambil minum susu
coklat dan menonton film di TV. Kemudian Galang merasa mengantuk dan dia
meletakkan kepalanya di atas pangkuan Nadine dan memiringkan tubuhnya,
seperti biasa yang dia lakukan sejak dulu, tak ada rasa canggung dan
sungkan lagi di antara mereka berdua. Nadine hanya bisa geleng kepala
melihat kelakuan Galang yang tidak pernah berubah sama sekali.
Entah
mereka ini bisa disebut apa ya? Sahabat yang sangat dekat? Mungkin.
Sampai bisa membuat pacar-pacar Galang dulu cemburu melihat kedekatan
mereka. Bahkan Galang lebih memilih menemani Nadine ke toko buku yang
menurutnya membosankan daripada pergi dengan pacarnya dan pergi
jalan-jalan tidak jelas. Tapi itu yang sering membuat Nadine tidak
enak hati.
"Lang, gimana kabar Stella pacar kamu
sekarang?" tanya Nadine tiba-tiba sambil matanya mengarah ke televisi.
Dia pura-pura memperhatikan televisi menunggu jawaban Galang.
"Hmmm.. apa?" Galang mendongak. "Stella? Oh.. sudah putus." jawab Galang santai.
"Putus lagi?" Kapan kamu bisa serius sih Lang, sama cewek kok nggak pernah awet sih?"
"Nggak tau, ah kurang sreg aja pokoknya." jawab Galang pelan sambil menguap. Matanya terasa berat.
Nadine
hanya menghela napas resah, sebenarnya dia sedikit senang dan lega
kalau Nathan putus dari pacar-pacarnya. Soalnya dari pengamatan Nadine
semua pacar-pacar Galang bisa dikatakan... (sekarang mantan pacarnya)
itu, termasuk jenis cewek-cewek cantik dan berkilau, tapi mereka satu
tipe matre dan gila belanja. Yah, bagi Galang uang bukan masalah. Dia
anak orang kaya, anak tunggal lagi. Dan sebentar lagi dia akan
menggantikan sang ayah memimpin perusahaan. Kurang lengkap apa coba? pikir Nadine geli
Tapi
ada suatu rahasia di hati Nadine yang tidak akan dia katakanya pada
siapa pun itu. Rahasia mengenai isi hatinya pada Galang. Walau tak
pernah diucapkan, Nadine mencintai Galang sejak dulu, dari masa sekolah
hingga sekarang. Rasa takut merusak persahabatan merekalah yang membuat
Nadine menyimpan rasa cinta itu diam-diam. Persahabatan lebih penting
dari cinta itu prinsipnya.
Nadine kembali menarik napas
panjang Tak lama kemudian, Nadine melihat Galang sudah tertidur dengan
damai di pangkuannya. Dia kemudian berdiri dan sebelumnya menaruh
kepala Nathan di bantal kursi pelan-pelan supaya Nathan tidak terbangun
dan mengambil selimut dan menyelimuti Galang . " Biarlah malam ini Galang tidur di sini, dia keliatan capek sekali. pikir Nadine. Setelah mematikan televisi dan lampu di ruang tamu, Nadine pun beranjak menuju kamarnya dan tidur.
*******************
Paginya
Nadine terbangun agak siang. Karena hari libur dia bisa agak sedikit
santai, dan perutnya terasa lapar. Kemudian dia ke dapur dan melihat
ada roti panggang lengkap beserta daging asap dan susu ada di atas meja
dapur ada notenya dari Galang. " Bunny, aku buatkan sarapan makan ya, aku pulang dulu ada janji sama teman." Love Galang
"Huh, pasti cewek nih." pikir Nadine geli sambil menyesap minumannya.
Nadine
lalu menuju beranda apartemennya yang terletak di lantai sepuluh dan
menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia memikir rencana hari ini apa
yang akan dilakukannya mumpung hari libur. Dia tadi mau mengajak Galang
nonton sepertinya kalah cepat dengan orang lain. Nadine menghela napas
berat. Nampaknya hari libur ini dia habiskan di apartemen saja, sambil
menonton DVD kesukaannya. "Ah, mandi dulu, deh."
Tell them I was happy
And my heart is broken
Tell them what I hope would be
Impossible impossible
Impossible impossible
Lagu Impossible-nya James Arthur berbunyi nyaring dari ponsel Nadine.
Dia melihat ID caller-nya "Mama? Ada apa tumben." pikirnya
"Halo Ma? Ada apa tumben nelpon Nad pagi-pagi gini?"
"Ini sudah siang Nadine! Anak gadis kok bangun siang berat jodoh lho nanti." mamanya langsung membombardirnya dengan nasehat ala nenek-nenek
"Ihh Mama, Nadine capek pulang lembur, wajar dong bangun siang mana libur lagi." sahut Nadine sewot.
Oh sudah kalau gitu, Oya,Mama bisa minta tolong nggak? Mama mau kamu beliin cake yang pernah kamu bawa ke rumah waktu itu, cakenya enak banget." sahut Mamanya Nadine dari seberang telepon.
Cake? Nadine coba mengingatnya. Oh... Orange Cake yang itu, oke nanti Nad beliin Ma sekalian Nadine mau main kerumah nanti."
"Okey sayang, Mama tunggu ya."
Tak
lama kemudian Nadine sudah berada di toke kue favoritnya yang terletak
di tengah-tengah sebuah mall yang terletak tak jauh dari apartemen-nya.
Sambil menunggu cakenya dibungkus mata, Nadine menjelajah ke sekitarnya.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok Galang yang berada di Café seberang
toko kue tempat Nadine berada. Galang terlihat sedang mengobrol sambil
tertawa bersama seorang wanita cantik dan modis, menurutnya beda sekali
dandanannya denganku pikir Nadine sedih sambil menunduk melihat
pakaiannya yang berbeda jauh dengan gadis itu, jeans dan T-shirt. Yah,
bukan pakaian yang cocok dan modis dengan gadis seumurannya. Cemburu
mulai terasa merayapi dihatinya. Nadine menarik napas panjang. Dan
memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Maaf Mbak, ini pesanannya sudah selesai." Pelayan toko kue itu memecah lamunannya.
"Oh sudah ya, makasih mbak."
"Sama-sama,."sahut pelayan itu sambil tersenyum.
Lalu
Nadine keluar dari toko kue tersebut dan berjalan cepat melewati depan
Café tempat Galang berkencan, dia sengaja pura-pura tidak melihat, dia
malas bertemu Galang dengan perasaan cemburu semakin membuatnya sakit
hati. Nadine mempercepat langkahnya menuju pintu keluar dan tiba-tiba
seseorang memanggilnya dan Nadine menoleh dan melihat Aldo teman
kantornya berlari kecil mengejarnya..
"Nad.." Hai tumben ketemu disini kita. Mau kemana?"
"Pulang, terus mau ke rumah mamaku. Aku habis beli cake pesanannya," sahutnya sambil menunjukan bungkusan kuenya.
"Ooh,
lalu naik apa kemari? Kamu jalan kaki, kan? Mengingat apartemenmu dekat
sini. Aku antar ya?" cerocos Aldo menawarkan diri untuk mengantarnya.
"Eh.. tumben nih kamu sendirian kan? Nggak sama pacarmu, kan?" mata Nadine menyipit curiga
Aldo
tertawa geli "Nggak lah, aku belum punya pacar kok." Ini aku lagi cari
buku kebetulan mau pulang juga, tiba-tiba lihat, kamu langsung aja aku
datengin. Jadi aku antar ya?" katanya setengah memaksa.
Nadine
nampak sejenak berpikir. Tidak ada salahnya kan Aldo mengantarnya,
"Oke, makasih ya sekalian hemat ongkos taksi nih." Aldo pun tertawa
terbahak lalu dia meraih bungkusan cake di tangan Nadine "Sini
belanjaanmu aku bawakan." kata Aldo. "Lewat sini." Aldo membimbing
Nadine menuju parkiran mobil.
Dan mereka pun berjalan
beriringan sambil tertawa-tawa. Tanpa di sadari Nadine seseorang di
belakang mereka memperhatikan dengan pandangan marah dan geram.
********
Galang
sedang asyik mengobrol dengan teman kencannya yang teranyar, Galang
memang tidak pernah kehabisan stok cewek buat di ajak kencan dan
rata-rata semua tidak pernah ada yang menolak dirinya. Seperti hari ini
dia ada kencan dengan wanita yang dikenalnya di bandara ketika baru
pulang dari Malaysia. Lumayan cantik, dan seksi. Galang tersenyum dalam
hati. Entah sudah berapa banyak mantan-mantannya bertebaran di
mana-mana. Tidak ada yang cocok di hatinya semua sama saja, hoby belanja
dan ke butik pakaian mahal.. Dan menganggapnya pohon uang yang bisa
diporotin seenaknya. Cihhh dasar cewek! Pikirnya sinis. Yah Galang juga
tidak pernah serius pacaran. Tapi jangan salah Galang berprinsip pacaran
sehat alias No Sex Before Married. Dia menentang keras gaya hidup
bebas. Yah kalau sekedar ciuman dan grepe-grepe mungkin nggak apa-apa ya
hehhehehe
Tiba-tiba, dia ingat Nadine sahabat
tersayangnya dari masa sekolah, sampai sekarang. Ayah mereka berdua
bersahabat dekat jadi sejak masih anak-anak mereka sudah dipertemukan.
Nadine selalu bersamanya saat sedih maupun senang ketika kematian
Mamanya Galang, waktu dia menginjak masa SMA. Nadine selalu menghiburnya
dengan tulus, mendengarkan keluh kesahnya tentang apa saja, Nadine
selalu menjadi pendengar yang baik. Bisa dikatakan Nadine sudah seperti
kakak walaupun umur mereka sama, juga seperti adik baginya karena Nadine
biar umurnya sudah 24 tahun tapi masih seperti anak kecil manja dan
hoby baca komiknya tidak pernah hilang, koleksi boneka kelinci adalah
favoritnya. Sehingga kamarnya penuh dengan boneka kelinci sampai
sebagian harus diungsikan ke rumah orangtuanya. Galang tersenyum geli.
"Galang...? Hei kok ngelamun kamu nggak dengerin aku ngomong ya?" rajuk Cheryl nama cewek teman kencannya terbaru sekarang ini.
"Eh..?Apa...nggak aku dengar kok." Sahut Galang terkejut.
"Dari tadi kamu bengong aja, mikirin apa sih? Cewek ya?"
Ah..bukan kok, hanya masalah pekerjaan." Jawab Galang enggan
"Kalau lagi sama aku, jangan mikirin yang lain dong, aku jadi di cuekin."kata Cheryl manja sambil mengelus lembut lengan Galang
"Oke, nggak lagi kok maaf ya." jawabnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba
mata Galang tanpa sengaja melihat keluar café melalui jendela kaca
besar café dan dia melihat... Nadine!. Sedang apa dia disini? Dengan
siapa ya? Galang segera bangkit dan mengejar Nadine dari belakang tanpa
mempedulikan panggilan Cheryl. Dia sedikit kehilangan jejak. Ah, itu dia
pikir Galang.Tapi baru saja ia akan mengangkat tangan dan memanggil
Nadine dan dia melihat ada seorang pria yang seusia Galang. berdiri di
sebelah Nadine dan mereka sedang tertawa gembira sambil berjalan
beriringan menuju keluar pintu mall menuju ke tempat parkiran mobil.
Sebelah tangan pria itu memegang lengan Nadine dan membimbingnya. Tangan
Galang yang tadi terangkat karena hendak menyapa Nadine langsung terasa
kaku, dan dengan perlahan turun. Dia bertanya-tanya dalam hati. Siapa
pria itu? Pacar Nadine kah? Kok aku nggak tau? Banyak sekali pertanyaan
di benak Galang.
Tapi ada sesuatu di hatinya yang terasa
panas dan merasa dirinya marah, napasnya seperti sesak hatinya seakan
diremas ia tidak suka Nadine dekat dengan pria itu. Galang tidak suka!
Pukul lima sore Nadine pulang ke apartemennya masih diantar Aldo
"Makasih,
Do sudah repot-repot nganterin aku ya." Dan maaf tadi Mamaku reseh ."
katanya tertawa. Aldo tersenyum. Dan Nadine segera keluar dari mobil
Aldo tapi sebelum dia membuka pintu Aldo sudah membukakan pintu mobil
untuknya.
"Makasih ."
"Sama-sama, Eh Nad lain kali kamu nggak nolak ya kalau aku ajak jalan kemana gitu?" Aldo tersenyum lembut.
Kening Nadine berkerut bingung.
"Dengan senang hati. Telepon aku saja kalo mau ngajak jalan ya."
"Tentu saja." Aldo tertawa
"Ehemm. Ehemm."
Suara deheman seseorang mengejutkan Nadine dan dia melihat Galang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.
"Habis kencan nih?" katanya sambil tersenyum manis.
"Bukan, hanya dari rumah Mama, kebetulan ketemu di Mall tadi ,lalu di mengantarkanku."jawab Nadine
"Ooh.."
Galang manggut-manggut lalu mengalihkan pandangannya kepada Aldo,
meneliti dari atas ke bawah memandangnya dengan pandangan menyelidik.
Aldo juga melakukan hal yang sama. Dua lelaki yang saling menilai.
Kemudian
Aldo mengulurkan tangan mengajak Galang bersalaman "Hai, kenalkan aku
Aldo, teman sekantor Nadine." katanya sambil senyum.
"Aku Galang. SAHABAT dari
kecil Nadine." sahutnya menyambut jabat tangan Aldo. Sengaja ia
menekankan kata SAHABAT untuk menegaskan bahwa Nadine sudah punya
sahabat dekat jadi dia tidak butuh sahabat baru lagi. Cihhhh dia pikir
bisa mengambil Nadine dariku.
"Aku pulang dulu ya Nad, Sampai besok." Pamit Aldo sebelum menghilang masuk kedalam mobilnya dan pergi.
Nadine
yang dari tadi memperhatikan tingkah Galang merasa heran ada apa
dengan Galang, yang seakan-akan memasang bendera perang dengan Aldo.
Jangan-jangan Galang? Ah Nggak mungkin banget deh. Nadine
menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba
mampir di kepalanya.
"Kamu kenapa Nad, pusing?" tanya
Galang yang tiba-tiba memegang dahinya. Wajah Nadine langsung menghangat
ketika tangan Galang menyentuhnya.
"Nggak apa-apa."
jawabnya jengah sambil menyingkirkan tangan Galang " Terus kamu kenapa
tadi dengan Aldo kok seperti tidak suka gitu?"
"Ha..aa itu
Galang menggaruk kepalanya serba salah "Nggak ada maksud apa-apa cuma
takut kalau-kalau kamu dimainin cowok gitu." Dan kelihatannya dia suka
kamu." selidik Galang
Kamu tahu dari mana kalau dia suka sama aku?"
"Jadi benar dia suka kamu ya?! "ujar Galang kaget
"Iya,
dan dia sudah pernah bilang sama aku kalau dia suka denganku." Bagus!
Nadine berbohong saja terus. Padahal Aldo tidak pernah mengatakan apa
pun padanya. Dia hanya ingin melihat reaksi Galang saja. Dan tampaknya
tidak pengaruh apa-apa. Nadine menarik napas panjang
Apa kamu perlu bantuanku buat pilihin cowok yang pantas buat kamu?" kata Galang kemudian mengabaikan maksud hati sebenarnya.
"Aku nggak butuh bantuanmu buat milihin cowok ." jawab Nadine tersinggung Aku bisa nilai sendiri."
"Nilai
sendiri dari mana? kamu kan tidak punya pengalaman sama sekali dengan
pria manapun." Mereka berjalan beriring menuju lift sambil bertengkar.
"
Selalu ada yang pertama kan? Suatu saat nanti aku juga pasti akan
pacaran terus menikah, dan bakalan cari cowok yang nggak suka main-main
sama cewek seperti kamu." rutuk Nadine sewot
"DEG!
Tiba-tiba Galang terdiam dia merasa hatinya di tonjok dan diremas oleh
tangan tak terlihat. Iya ya, suatu saat pasti akan terjadi, Nadine akan
diambil orang darinya. Galang tidak mau! Tapi apa hakku ya? Aku hanya
sahabatnya hanya itu. Bukan pacar Nadine. Ahhhhh... tampaknya aku harus
menjernihkan pikiran Galang sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Nadine bingung dengan perubahan sikap Galang. Kenapa? Apa aku salah ngomong?
Galang
masih terdiam. Sibuk dengan hatinya yang tiba-tiba merasa takut Nadine
diambil orang. Kenapa? Apa aku menyukai Nadine? Galang makin bingung
dengan perasaannya.
Setelah itu Galang tidak berkata-kata lagi walau sudah tiba di depan pintu Apartemennya.
Semenjak
hari itu, Nadine tidak melihat Galang lagi. Dia juga tidak main kemari,
mau ditelpon kok rasanya aku seperti pacarnya saja. Dan juga Galang
tidak menelponnya seperti biasa Ah, sudahlah siapa tahu dia sibuk sekali
hingga tidak sempat main kemari, atau dia sibuk dengan pacarnya. Hmm
mungkin saja sih.
Ada rasa sesak di dalam rongga dadanya,
dia sudah terbiasa bila mendengar suara celoteh Galang yang ribut, atau
rengekan manjanya minta dibuatin makanan, dia kemana ya? pintu
apartemennya juga tertutup rapat seakan-akan tidak ada penghuninya.
Dan
itu berlangsung selama satu minggu. Pada hari minggu malam ketika
sedang asyik melamun di ruang tamu apartemennya. Nadine mendengar bel
pintunya berbunyi nyaring ditekan dengan tidak sabar.
Ting....tong....ting..tong
Nadine langsung melompat dari sofanya. Dia sudah bisa menebak siapa yang berada di depan pintu apartemennya.
Dan
benar saja! Galang berdiri gagah di hadapannya dengan senyum biasanya
yang jahil. Nadine hanya bisa bengong, kerinduan menyeruak dari dalam
hatinya. Dia ingin menangis sangking rindunya dengan Galang. Tapi
ditahannya sekuat tenaga.
"Lho kamu Lang, dari mana saja kok nggak kelihatan seminggu ini?" katanya heran.
"Kenapa?
Kamu cariin aku ya?" tanya Galang sambil melangkah masuk kedalam dan
langsung duduk berselonjor di lantai bersandar pada sofa. Dan kemudian
Nadine pun duduk di sebelahnya.
"Kamu dari mana Lang?" pasti asyik pacaran ya sampai lupa pulang."
"Tidak dari mana-mana Cuma menghilang sebentar untuk berpikir jernih."
"Tentang apa?"
Tiba-tiba Galang memutar tubuhnya menghadap Nadine dan menatapnya dalam.
"Nadine...tampaknya aku lagi jatuh cinta," Kata Galang tiba-tiba.
Napas
Nadine seakan terhenti. Tenggorokannya tercekat. Baru kali ini Galang
mengatakan dia jatuh cinta, karena selama ini Galang tidak pernah
mengatakan padanya bahwa ia jatuh cinta. Hanya sekedar Having fun dengan
wanita-wanita cantik. Tapi tampaknya kali ini Galang serius. Hati
Nadine terasa sangat sakit.
Lalu dengan senyum yang dipaksakan dia bertanya "Siapa wanita "beruntung" itu?"
Galang
menatap Nadine dengan seksama dan dia melihat gurat lelah diwajah
cantiknya dan tampaknya Nadine tidak tidur nyenyak selama seminggu ini.
Apa dia memikirkan aku?
Galang kemudian menjawab pertanyaan Nadine "Dia cantik, lugu, dan polos
"Apa dia temanmu? Kok aku nggak tahu kamu punya teman yang akrab wanita selain aku?" Nadine heran sekaligus cemburu.
"Ya, dia temanku, teman yang sangat baik."
Nadine hampir mau menangis.Masih ditahannya dengan memasang senyum.
"Lalu katakan saja padanya kalau kamu mencintainya."
"Maunya
begitu, tapi aku ragu dan malu bagaimana kalau dia menolak dan hanya
menganggapku teman biasa." Galang menundukkan pandangannya.
"Eh bagaimana kalau aku berlatih dulu denganmu?" tiba-tiba Galang mendongakkan kepalanya menatap Nadine.
"Haa, berlatih denganku? tanya Nadine bingung
"Iya, mau ya?" bujuk Galang
Nadine berpikir sejenak, lalu mengangguk perlahan. Air matanya hampir jebol.
"Baik, sip" Kemudian Galang menatap Nadine dengan lembut dan penuh binar cinta di matanya lalu menggengam tangan Nadine erat.
"
Aku mencintaimu ....kamu mau menjadi pacarku? maukah kamu menjadi ratu
di hatiku selamanya menjadi ibu dari anak-anakku suatu saat nanti? Aku
akan selalu mencintaimu, menemani, mendampingimu selamanya." Ucap Galang
pelan.
"Ya, aku mau. Dan aku juga mencintaimu...." Jawab
Nadine cepat "Nah gampangkan? ayo katakan segera padanya" ujar Nadine."
Sambil melepaskan genggaman tangan Galang pelan.
Akan tetapi dengan cepat Galang meraih tangannya dan menggenggamnya lagi. Sambil menatapnya lekat-lekat.
Dahi Nadine berkerut heran "Kenapa? Kamu nggak pede ya? Cepat katakan langsung padanya."
"Sudah, aku katakan kok...."
"Ehhh, Kapan?" Tanya Nadine terkejut dan bingung
"Barusan saja.." Galang tersenyum jahil
Nadine berusaha mencerna kata-kata Galang dan dia masih bingung
"Iya, Bunny barusan sudah aku katakan padanya." Galang menegaskan lagi.
Dan ketika pengertian itu sudah mencapainya. Wajah Nadine berubah menjadi merah padam.
"Kok.?.Lang...Kamu...Aku...."
gagap dan terpatah-patah Nadine tak mampu berkata-kata. Sambil menatap
horror pada Galang. Mulutnya megap-megap persis ikan kekurangan air.
"Ss... sejak kapan?"
"Aku
baru menyadarinya ketika melihat kau bersama Aldo , dan begitu aku
sadar aku mencintaimu, aku takut.. takut kalau kau tiba benci dan
memutuskan persahabatan kita. Dan aku sedikit menjauh darimu untuk
memastikan hatiku. Tapi kemudian aku sadar bahwa kau adalah wanita yang
aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku selamanya.".
Galang mengangkat dagu Nadine yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya.
Dan betapa terkejutnya dia ketika dia melihat air mata yang mengalir di pipi Nadine. "Bunny, maaf, apa aku membuatmu marah? kamu tersinggung karena aku telah melanggar pertemanan kita?" Galang panic.
Nadine
menggeleng pelan dia tak sanggup berkata-kata. Hatinya seakan mau
meledak karena bahagia. Sehingga ia hanya bisa menangis kesegukan.
Galang heran ternyata Nadine bisa menangis seperti ini juga. Kemudian
Galang merengkuh Nadine ke dalam pelukannya mendekapnya di dadanya yang
bidang. Tangis Nadine semakin besar dan dia terisak, air matanya
membasahi kemeja Galang.
"Kenapa kamu jadi cinta sama aku, Lang?" Tanya Nadine tiba-tiba.
"Aku
tidak tahu kenapa aku tiba-tiba saja menyadari jatuh cinta padamu,
tidak tahu bagaimana, dan kenapa, itu terjadi begitu saja." Katanya
lembut ditelinga Nadine. "Kamu yang selalu ada bersamaku, yang selalu
mendengarkan dan meladeni keegoisanku selama bertahun-tahun. Walau pun
kamu menggerutu, tapi tidak pernah marah padaku. Walau pun aku selalu
membuatmu sebal dengan kelakuan ku yang sering gonta-ganti wanita. Tapi
kamu tidak pernah menghakimiku kamu selalu ada di dekatku, menerimaku
apa adanya"
Hening.
"Nadine, bicaralah
katakan sesuatu." Galang tampak risau " Apa kamu juga mencintaiku?"
Galang menangkup wajah Nadine dengan kedua tangannya yang besar dan
kokoh. Ditatapnya wajah Nadine dengan cinta.
Nadine masih
terdiam dan matanya berkaca-kaca lalu menganggukan kepalanya " Ya, aku
juga mencintaimu. Sangat mencintaimu dari dulu. Hanya aku tidak mau
mengatakan apa pun padamu aku takut kamu akan pergi dariku kalau kamu
tahu isi hatiku. Kamu adalah pria bebas yang tidak mau terikat oleh
wanita mana pun." Katanya sambil menatap Galang.
Hati
Galang terasa mengembang bahagia. Rasa cemas akan jawaban Nadine kini
berganti dengan perasaan lega dan terharu. Kebahagiannya membuncah.
Pengakuan cinta Nadine terasa begitu indah. Hingga ia takut kalau saja
semua ini hanya mimpi belaka.
"Tapi Nad, aku mulai
sekarang akan selamanya terikat denganmu, aku tidak akan kemana-mana.
Jangan khawatirkan itu." Lalu bagaimana kalau kita menikah saja? Mau kan
Nad?" Oh...sebentar ya ini untukmu." Galang mengeluarkan kotak kecil
berbentuk segi empat dari sakunya "Bukalah, oleh-oleh yang kamu minta
waktu itu."
Nadine membukanya perlahan, dan dia takjub ada
seuntai kalung cantik berbandul seekor kelinci yang di lapisi batu
berlian di sekelilingnya. Dia sangat senang.
"Ini hadiah
lamaranku untukmu, Kamu suka? Aku melihatnya di toko perhiasan waktu itu
aku langsung teringat kamu." Katanya sambil memutar tubuh Nadine
memunggunginya memakaikan kalung itu di leher putihnya. Lalu Galang
memeluk tubuh Nadine dan melingkarkan kedua lengannya di pinggangnya.
"Jadi Nad, apa jawabanmu?" Galang bertanya kembali sambil meletakkan
dagunya di pundak Nadine.
Nadine kembali menghadap Galang
dan menatap ke dalam matanya. Dan dia melihat kesungguhan hati Galang
di sana. Perlahan Nadine menganggukan kepalanya tanda setuju.
Dan
Galang merasa bahagia mendapat jawaban dari Nadine. Dia segera memeluk
erat tubuh Nadine, merasakan dadanya berdebar kencang dan getar halus
merayapi hatinya. Dia mencium dahi Nadine lembut.
"Our
Laugh, your yelling, your talks, your crying, your care, your love is
my drug. If would have got you, its like a dream come true.... I love
you Nadine."
"I love you more.. Lang."
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Masih banyak lubang2nya cerita ini hehhehe maaff ya :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.