Kamis, 27 Februari 2014

I LOVE YOU,NADINE

Nadine menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berada di ruang tamu apartemennya. Rasa capek pulang lembur sampai malam begini tulang-tulangnya serasa mau lepas. "Mandi dulu, ah." Seraya bangkit dan berjalan gontai. Dengan langkah diseret lesu dia menuju kamar mandi yang ada di kamar tidurnya.

Ting....tong....ting ...tong  
Suara bel yang tak sabar di pintu apartemen Nadine membuatnya  batal ke kamar mandi, lalu memutar tubuhnya menuju pintu.
ting tong....ting...,tong ting...tong
Suara bel makin tidak sabar. Nadine yakin hanya satu orang yang bisa menekan bel tidak sabar seperti itu.
"Ya, tunggu sebentar!"  teriak Nadine kesal.

Dan begitu pintu dibuka, Galang sahabat sejak kecilnya  berdiri tegak menjulang di depan pintunya, wajah tampannya tersenyum gembira, kedua tangannya direntangkan lebar dan langsung memeluk Nadine erat.
"Bunny, aku pulang, aku kangen kamu."  langsung memeluk Nadine erat-erat sampai  Nadine hampir kehabisan napas.

"Lepasin Lang!, aku nggak bisa napas ishhh," protes Nadine kesal sambil berusaha melepaskan tangan besar Galang yang memeluknya . "Kapan kamu pulang dari Malaysia? Kok nggak kasih kabar ke aku?" katanya sewot. Sudah hampir sebulan Nathan bertugas di Malaysia memantau cabang perusahaan milik keluarganya.

"Aku sengaja kasih kejutan ke kamu Bunny," sahut Galang sambil mengacak-acak rambut Nadine. "Kamu kangen sama aku ya?" senyum jahilnya mengembang manis. Bunny adalah panggilan sayang Galang pada Nadine, karena  Nadine sangat menggemari segala sesuatu berbentuk kelinci. Kalau ditanya alasannya jawabnya hanya 'Lucu' katanya.

"Ya, aku kangen," katanya

"Ah, beneran kamu kangen sama aku, Nad," mata Galang nampak berbinar gembira

"Ya, kangenlah, sama...." Nadine terdiam seperti berpikir "Oleh-oleh dari Malaysia, mana oleh-olehnya," ujar Nadine sambil menadahkan tangannya.

"Waduhh," kata Galang sambil menepuk dahinya, ketinggalan di mobil ada di dalam koper nanti aja ya males turun kebawahnya." Jawabnya sambil memamerkan senyum sejuta voltnya.

"Terus ngapain kamu kemari malam-malam?"

 "Ishhh judes amat sih sama sahabat sendiri, Aku lapar buatin makanan dong, Nad," rengek Galang  manja.

"Buat sendiri, aku capek mau mandi terus tidur."

"Yah, kok gitu sih, aku kangen sama masakan kamu, Bunny." Katanya sambil menarik lengan Nadine. "Kamu tega sama sahabatmu yang tercinta  yang  tampan sedunia tiada tandingan ini? aku kelaparan sejak dari bandara tadi."

Nadine paling sebal sama kelakuan narsis Galang yang satu ini tidak ada yang menyamainya sama sekali.

"Lang, apartemenmu kan ada di sebelah pulang aja sekalian, terus pesan DO kan beres," ujar Nadine seperti menasehati anak kecil. "Sudahlah, kalau kamu mau itu ada spageti dengan saus instannya kamu buat sendiri aja, aku mau mandi!" ujar Nadine akhirnya mengalah, lalu  berjalan menuju ke kamarnya.

Galang tersenyum jahil "Bunny, pastiin kamar mandi kamu dikunci ya, kalo nggak ntar aku ikut mandi  lho, kebetulan aku sudah gerah banget!" teriak Galang  dari dapur.  

"Awas kalo berani, aku lempar pakai sandal kamu ntar! Dasar mesum! "ancam Nadine sambil mengacungkan sandal kamarnya.

"Hahahha., galak bener ntar nggak ada cowok yang mau sama kamu lho," godanya Galang.

"Biarin!"

Galang  tersenyum geli, Nadine adalah sahabatnya paling dekat tomboy dan tidak suka dandan seperti gadis-gadis lain. Padahal dia cantik matanya besar, dihiasi bulu mata yang lentik, cocok dengan wajahnya yang bulat telur, hidungnya mancung dan juga kulitnya yang putih bersih. Namun, itulah kecantikannya asli bukan karena riasan tebal seperti wanita-wanita kebanyakan. Tapi sepertinya Nadine sama sekali tidak menyadari kecantikannya sendiri.

Setelah mandi Nadine dan merasa segar lalu dia menuju dapur dan melihat di atas meja makan sudah tersedia spaghetti yang sudah jadi berserta dua buah piring lengkap dengan susu coklatnya.

"Ayo makan, Nad," ajak Galang sambil menaruh spagethi ke piring Nadine

Dan akhirnya mereka makan berdua dengan lahap ternyata keduanya kelaparan.

Tak lama kemudian mereka berdua sudah duduk di atas sofa sambil minum susu coklat dan menonton film di TV. Kemudian Galang merasa mengantuk dan dia meletakkan kepalanya di atas pangkuan Nadine dan memiringkan tubuhnya, seperti biasa yang dia lakukan sejak dulu, tak ada rasa canggung dan sungkan lagi di antara mereka berdua. Nadine hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan Galang yang tidak pernah berubah sama sekali.

Entah mereka ini bisa disebut apa ya? Sahabat yang sangat dekat? Mungkin. Sampai bisa membuat pacar-pacar Galang dulu cemburu melihat kedekatan mereka. Bahkan Galang lebih memilih menemani Nadine  ke toko buku yang menurutnya  membosankan daripada pergi dengan pacarnya dan pergi jalan-jalan tidak jelas. Tapi  itu yang sering membuat Nadine  tidak enak hati.

"Lang, gimana kabar Stella pacar kamu sekarang?" tanya Nadine tiba-tiba sambil matanya mengarah ke televisi. Dia pura-pura memperhatikan televisi menunggu jawaban Galang.

"Hmmm.. apa?"  Galang mendongak. "Stella? Oh.. sudah putus." jawab Galang santai.

"Putus lagi?"   Kapan kamu bisa serius sih Lang, sama cewek kok nggak pernah awet sih?"

"Nggak tau, ah kurang sreg aja pokoknya." jawab Galang pelan sambil menguap. Matanya terasa berat.

Nadine hanya menghela napas resah, sebenarnya dia sedikit senang dan lega kalau Nathan putus dari pacar-pacarnya. Soalnya dari pengamatan Nadine semua pacar-pacar Galang bisa dikatakan... (sekarang mantan pacarnya) itu, termasuk jenis cewek-cewek cantik dan berkilau, tapi mereka satu tipe matre dan gila belanja. Yah, bagi Galang uang bukan masalah. Dia anak orang kaya, anak tunggal lagi. Dan sebentar lagi dia akan menggantikan sang ayah memimpin perusahaan. Kurang lengkap apa coba? pikir Nadine geli

Tapi ada suatu rahasia di hati Nadine yang tidak akan dia katakanya pada siapa pun itu. Rahasia mengenai isi hatinya pada Galang. Walau tak pernah diucapkan, Nadine mencintai Galang sejak dulu, dari masa sekolah hingga sekarang. Rasa takut merusak persahabatan merekalah yang membuat Nadine menyimpan rasa cinta itu diam-diam. Persahabatan lebih penting dari cinta itu prinsipnya.

 Nadine kembali menarik napas panjang Tak lama kemudian, Nadine melihat Galang sudah tertidur dengan damai di pangkuannya. Dia kemudian berdiri dan  sebelumnya menaruh kepala Nathan di bantal kursi  pelan-pelan supaya Nathan tidak terbangun dan mengambil selimut dan menyelimuti Galang . " Biarlah malam ini Galang tidur di sini, dia keliatan capek sekali. pikir Nadine. Setelah mematikan televisi dan lampu di ruang tamu, Nadine pun beranjak menuju kamarnya dan tidur.



*******************






Paginya Nadine terbangun agak siang. Karena hari libur dia bisa agak sedikit santai, dan perutnya terasa lapar. Kemudian dia ke dapur  dan melihat ada roti panggang lengkap beserta daging asap dan susu ada di atas meja dapur ada notenya dari Galang. " Bunny, aku buatkan sarapan makan ya, aku pulang dulu ada janji sama teman." Love Galang
"Huh, pasti cewek nih." pikir Nadine geli sambil menyesap minumannya.

 Nadine lalu menuju beranda apartemennya yang terletak di lantai sepuluh dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia memikir rencana hari ini apa yang akan dilakukannya mumpung hari libur. Dia tadi mau mengajak Galang nonton  sepertinya kalah cepat dengan orang lain. Nadine menghela napas berat. Nampaknya hari libur ini dia habiskan di apartemen saja, sambil menonton DVD kesukaannya. "Ah, mandi dulu, deh."

 Tell them I was happy
 And my heart is broken
 Tell them what I hope would be
 Impossible impossible
 Impossible impossible
 Lagu Impossible-nya James Arthur berbunyi nyaring dari ponsel Nadine.
 Dia melihat ID caller-nya "Mama? Ada apa tumben." pikirnya

"Halo Ma? Ada apa tumben nelpon Nad pagi-pagi gini?"
 "Ini sudah siang Nadine! Anak gadis kok bangun siang berat jodoh lho nanti." mamanya langsung membombardirnya dengan nasehat ala nenek-nenek
 "Ihh Mama, Nadine capek pulang lembur, wajar dong bangun siang mana libur lagi." sahut Nadine sewot.
 Oh sudah kalau gitu, Oya,Mama bisa minta tolong nggak? Mama mau kamu beliin cake yang pernah kamu bawa ke rumah waktu itu, cakenya enak banget." sahut Mamanya Nadine dari seberang telepon.
  Cake? Nadine coba mengingatnya. Oh... Orange Cake yang itu, oke nanti Nad beliin Ma sekalian Nadine  mau main kerumah nanti."
 "Okey sayang, Mama tunggu ya."
 Tak lama kemudian Nadine sudah berada di toke kue favoritnya yang terletak di tengah-tengah sebuah mall yang terletak tak jauh dari apartemen-nya. Sambil menunggu cakenya dibungkus mata, Nadine menjelajah ke sekitarnya. Tiba-tiba matanya menangkap sosok Galang yang berada di Café seberang toko kue tempat Nadine berada. Galang terlihat sedang mengobrol sambil tertawa bersama seorang wanita cantik dan modis, menurutnya beda sekali dandanannya  denganku pikir Nadine sedih sambil menunduk melihat pakaiannya yang berbeda jauh dengan gadis itu, jeans dan T-shirt. Yah, bukan pakaian yang cocok dan modis  dengan gadis seumurannya.  Cemburu mulai terasa merayapi dihatinya. Nadine menarik napas panjang. Dan memalingkan wajahnya ke tempat lain.

"Maaf Mbak, ini pesanannya sudah selesai." Pelayan toko kue itu memecah lamunannya.

"Oh sudah ya, makasih mbak."

"Sama-sama,."sahut pelayan itu sambil tersenyum.
 Lalu Nadine keluar dari toko kue tersebut dan berjalan cepat melewati depan Café tempat Galang berkencan, dia sengaja pura-pura tidak melihat, dia malas bertemu Galang dengan perasaan cemburu semakin membuatnya sakit hati. Nadine mempercepat langkahnya menuju pintu keluar dan tiba-tiba seseorang memanggilnya dan Nadine menoleh dan melihat Aldo teman kantornya berlari kecil mengejarnya..

"Nad.." Hai tumben ketemu disini kita. Mau kemana?"

"Pulang, terus mau ke rumah mamaku. Aku habis beli cake pesanannya," sahutnya sambil menunjukan bungkusan kuenya.
 "Ooh, lalu naik apa kemari? Kamu jalan kaki, kan? Mengingat apartemenmu dekat sini. Aku antar ya?" cerocos Aldo menawarkan diri untuk mengantarnya.
 "Eh.. tumben nih kamu sendirian kan? Nggak sama pacarmu, kan?" mata Nadine menyipit curiga
 Aldo tertawa geli "Nggak lah, aku belum punya pacar kok." Ini  aku lagi cari buku kebetulan mau pulang juga, tiba-tiba lihat, kamu langsung aja aku datengin. Jadi aku antar ya?" katanya setengah memaksa.

Nadine nampak sejenak berpikir. Tidak ada salahnya kan Aldo mengantarnya,  "Oke, makasih ya sekalian hemat ongkos taksi nih." Aldo pun tertawa terbahak lalu dia meraih bungkusan cake di tangan Nadine "Sini belanjaanmu aku bawakan." kata Aldo. "Lewat sini." Aldo membimbing Nadine  menuju parkiran mobil.

 Dan mereka pun berjalan beriringan sambil tertawa-tawa. Tanpa di sadari Nadine seseorang di belakang mereka  memperhatikan dengan pandangan marah dan geram.

********

Galang sedang asyik mengobrol dengan teman kencannya yang teranyar, Galang memang tidak pernah kehabisan stok cewek buat di ajak kencan dan rata-rata semua tidak pernah ada yang menolak dirinya. Seperti hari ini dia ada kencan dengan wanita yang dikenalnya di bandara ketika baru pulang dari Malaysia. Lumayan cantik, dan seksi. Galang tersenyum dalam hati. Entah sudah berapa banyak mantan-mantannya bertebaran di mana-mana. Tidak ada yang cocok di hatinya semua sama saja, hoby belanja dan ke butik pakaian mahal.. Dan menganggapnya   pohon uang yang bisa diporotin seenaknya. Cihhh dasar cewek! Pikirnya sinis. Yah Galang juga tidak pernah serius pacaran. Tapi jangan salah Galang berprinsip pacaran sehat alias No Sex Before Married. Dia menentang keras gaya hidup bebas. Yah kalau sekedar ciuman dan grepe-grepe mungkin nggak apa-apa ya hehhehehe

Tiba-tiba, dia ingat Nadine sahabat tersayangnya dari masa sekolah, sampai sekarang. Ayah mereka berdua bersahabat dekat jadi sejak masih anak-anak mereka sudah dipertemukan. Nadine selalu bersamanya  saat sedih maupun senang ketika kematian Mamanya Galang, waktu dia menginjak masa SMA. Nadine selalu menghiburnya dengan tulus, mendengarkan keluh kesahnya tentang apa saja,  Nadine selalu menjadi pendengar yang baik. Bisa dikatakan Nadine sudah seperti kakak walaupun umur mereka sama, juga seperti adik baginya karena Nadine biar umurnya sudah 24 tahun tapi masih  seperti anak kecil manja dan  hoby baca komiknya tidak pernah hilang, koleksi boneka kelinci adalah favoritnya. Sehingga kamarnya penuh dengan boneka kelinci sampai sebagian harus diungsikan ke rumah orangtuanya. Galang tersenyum geli.

"Galang...? Hei kok ngelamun kamu nggak dengerin aku ngomong ya?" rajuk Cheryl nama cewek teman kencannya terbaru sekarang ini.
 "Eh..?Apa...nggak aku dengar kok." Sahut Galang terkejut.               
 "Dari tadi kamu bengong aja, mikirin apa sih? Cewek ya?"
 Ah..bukan kok, hanya masalah pekerjaan." Jawab Galang enggan
 "Kalau lagi sama aku, jangan mikirin yang lain dong, aku jadi di cuekin."kata Cheryl manja sambil mengelus lembut lengan Galang
 "Oke, nggak lagi kok maaf ya." jawabnya sambil tersenyum.

 Tiba-tiba mata Galang tanpa sengaja melihat keluar café melalui jendela kaca besar café dan dia melihat... Nadine!. Sedang apa dia disini? Dengan siapa ya? Galang segera bangkit dan mengejar Nadine dari belakang tanpa mempedulikan panggilan Cheryl. Dia sedikit kehilangan jejak. Ah, itu dia pikir Galang.Tapi baru saja ia akan mengangkat tangan dan memanggil Nadine dan dia melihat ada seorang pria yang seusia Galang.  berdiri di sebelah Nadine dan mereka sedang tertawa gembira sambil berjalan beriringan menuju keluar pintu mall menuju ke tempat parkiran mobil. Sebelah tangan pria itu memegang lengan Nadine dan membimbingnya. Tangan Galang yang tadi terangkat karena hendak menyapa Nadine langsung terasa kaku, dan dengan perlahan turun. Dia bertanya-tanya dalam hati. Siapa pria itu? Pacar Nadine kah? Kok aku nggak tau? Banyak sekali pertanyaan di benak Galang.

Tapi ada sesuatu di hatinya yang terasa panas dan merasa dirinya marah, napasnya seperti sesak hatinya seakan diremas ia tidak suka Nadine dekat dengan pria itu. Galang tidak suka!



Pukul lima sore  Nadine pulang ke apartemennya masih diantar Aldo

"Makasih, Do sudah repot-repot nganterin aku ya." Dan maaf tadi Mamaku reseh ." katanya tertawa. Aldo tersenyum.  Dan Nadine segera keluar dari mobil Aldo tapi sebelum dia membuka pintu Aldo sudah membukakan pintu mobil untuknya.

"Makasih ."
 "Sama-sama, Eh Nad lain kali kamu nggak nolak ya kalau aku ajak jalan kemana gitu?" Aldo tersenyum lembut.
 Kening Nadine berkerut bingung.
 "Dengan senang hati. Telepon aku saja kalo mau ngajak jalan ya."
 "Tentu saja." Aldo tertawa

 "Ehemm. Ehemm."

Suara deheman seseorang mengejutkan Nadine dan dia melihat Galang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.

"Habis kencan nih?" katanya sambil tersenyum manis.

"Bukan, hanya dari rumah Mama, kebetulan ketemu di Mall tadi ,lalu di mengantarkanku."jawab Nadine

"Ooh.." Galang manggut-manggut lalu mengalihkan pandangannya kepada Aldo, meneliti dari atas ke bawah memandangnya dengan pandangan menyelidik. Aldo juga melakukan hal yang sama. Dua lelaki yang saling menilai.

Kemudian Aldo mengulurkan tangan mengajak  Galang bersalaman  "Hai, kenalkan aku Aldo, teman sekantor Nadine." katanya sambil senyum.

"Aku Galang. SAHABAT dari kecil Nadine." sahutnya menyambut jabat tangan Aldo. Sengaja ia menekankan kata SAHABAT untuk menegaskan bahwa Nadine sudah punya sahabat dekat jadi dia tidak butuh sahabat baru  lagi. Cihhhh dia pikir bisa mengambil Nadine dariku.

"Aku pulang dulu ya Nad, Sampai besok." Pamit Aldo sebelum menghilang masuk kedalam mobilnya dan pergi.



Nadine yang dari  tadi memperhatikan tingkah Galang merasa heran ada apa dengan Galang, yang seakan-akan memasang bendera perang dengan Aldo. Jangan-jangan Galang? Ah Nggak mungkin banget deh. Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba mampir di kepalanya.

"Kamu kenapa Nad, pusing?" tanya Galang yang tiba-tiba memegang dahinya. Wajah Nadine langsung menghangat ketika tangan Galang menyentuhnya.

"Nggak apa-apa." jawabnya jengah sambil menyingkirkan tangan Galang " Terus kamu kenapa tadi dengan Aldo kok seperti tidak suka gitu?"

"Ha..aa itu Galang menggaruk kepalanya serba salah "Nggak ada maksud apa-apa cuma takut kalau-kalau  kamu  dimainin cowok gitu." Dan kelihatannya dia suka kamu." selidik Galang

Kamu tahu dari mana kalau dia suka sama aku?"

"Jadi benar dia suka kamu ya?! "ujar  Galang kaget

"Iya, dan dia sudah pernah bilang sama aku kalau dia suka denganku." Bagus! Nadine berbohong saja terus. Padahal Aldo tidak pernah mengatakan apa pun padanya. Dia hanya ingin melihat reaksi Galang saja. Dan tampaknya tidak pengaruh apa-apa. Nadine menarik napas panjang

Apa kamu perlu bantuanku buat pilihin cowok yang pantas buat kamu?" kata Galang kemudian mengabaikan maksud hati sebenarnya.

"Aku nggak butuh bantuanmu buat milihin cowok ." jawab Nadine tersinggung Aku bisa nilai sendiri."

"Nilai sendiri dari mana? kamu kan tidak punya pengalaman sama sekali dengan pria manapun." Mereka berjalan beriring menuju lift sambil bertengkar.

" Selalu ada yang pertama kan? Suatu saat nanti aku juga pasti akan pacaran terus menikah, dan bakalan cari cowok yang nggak suka main-main sama  cewek seperti kamu." rutuk Nadine sewot

"DEG! Tiba-tiba Galang terdiam dia merasa hatinya di tonjok dan diremas oleh tangan tak terlihat. Iya ya, suatu saat pasti akan terjadi, Nadine akan diambil orang darinya. Galang tidak mau! Tapi apa hakku ya? Aku hanya sahabatnya hanya itu. Bukan pacar Nadine. Ahhhhh... tampaknya aku harus menjernihkan pikiran Galang sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

Nadine bingung dengan perubahan sikap Galang. Kenapa? Apa aku salah ngomong?

Galang masih terdiam. Sibuk dengan hatinya yang tiba-tiba merasa takut Nadine diambil orang. Kenapa? Apa aku menyukai Nadine? Galang makin bingung dengan perasaannya.

Setelah itu Galang tidak berkata-kata lagi walau sudah tiba di depan pintu Apartemennya.

Semenjak hari itu, Nadine tidak melihat Galang lagi. Dia juga tidak main kemari, mau ditelpon kok rasanya aku seperti pacarnya saja. Dan juga Galang tidak menelponnya seperti biasa Ah, sudahlah siapa tahu dia sibuk sekali hingga tidak sempat main kemari, atau dia sibuk dengan pacarnya. Hmm mungkin saja sih.

Ada rasa sesak di dalam rongga dadanya, dia sudah terbiasa bila mendengar suara celoteh  Galang yang ribut, atau rengekan manjanya minta dibuatin makanan, dia kemana ya? pintu apartemennya juga tertutup rapat seakan-akan tidak ada penghuninya.

Dan itu berlangsung selama satu minggu. Pada hari minggu malam ketika sedang asyik melamun di ruang tamu apartemennya. Nadine mendengar bel pintunya berbunyi nyaring ditekan dengan tidak sabar.

Ting....tong....ting..tong

Nadine langsung melompat dari sofanya. Dia sudah bisa menebak siapa yang berada di depan pintu apartemennya.

Dan benar saja! Galang berdiri gagah di hadapannya dengan senyum biasanya yang jahil. Nadine hanya bisa bengong, kerinduan menyeruak dari dalam hatinya. Dia ingin menangis sangking rindunya dengan Galang. Tapi ditahannya sekuat tenaga.

"Lho kamu Lang, dari mana saja kok nggak kelihatan seminggu ini?" katanya heran.

"Kenapa? Kamu cariin aku ya?" tanya Galang sambil melangkah masuk kedalam dan langsung duduk berselonjor di lantai bersandar pada sofa. Dan kemudian Nadine pun duduk di sebelahnya.

"Kamu dari mana Lang?" pasti asyik pacaran ya sampai lupa pulang."

"Tidak dari mana-mana Cuma menghilang sebentar untuk berpikir jernih."

"Tentang apa?"

Tiba-tiba Galang memutar tubuhnya menghadap Nadine dan menatapnya dalam.

"Nadine...tampaknya aku lagi jatuh cinta," Kata Galang tiba-tiba.

Napas Nadine seakan terhenti. Tenggorokannya tercekat. Baru kali ini Galang mengatakan dia jatuh cinta, karena selama ini Galang tidak pernah mengatakan padanya bahwa ia jatuh cinta. Hanya sekedar Having fun dengan wanita-wanita cantik. Tapi tampaknya kali ini Galang serius. Hati Nadine terasa sangat sakit.

Lalu dengan senyum yang dipaksakan dia bertanya "Siapa wanita "beruntung"  itu?"

Galang menatap Nadine dengan seksama dan dia melihat gurat lelah diwajah cantiknya dan tampaknya Nadine tidak tidur nyenyak selama seminggu ini. Apa dia memikirkan aku?

Galang kemudian menjawab pertanyaan Nadine "Dia cantik, lugu, dan polos

"Apa dia temanmu? Kok aku nggak tahu kamu punya teman yang akrab wanita selain aku?" Nadine heran sekaligus cemburu.

"Ya, dia temanku, teman yang sangat baik."

Nadine hampir mau menangis.Masih ditahannya dengan memasang senyum.

"Lalu katakan saja padanya kalau kamu mencintainya."

"Maunya begitu, tapi aku ragu dan malu bagaimana kalau dia menolak dan hanya menganggapku teman biasa." Galang menundukkan pandangannya.

"Eh bagaimana kalau aku berlatih dulu denganmu?" tiba-tiba Galang mendongakkan kepalanya menatap Nadine.

"Haa, berlatih denganku? tanya Nadine bingung

"Iya, mau ya?" bujuk Galang

Nadine berpikir sejenak, lalu mengangguk perlahan. Air matanya hampir jebol.

"Baik, sip" Kemudian Galang menatap Nadine dengan lembut dan penuh binar cinta di matanya lalu menggengam tangan Nadine erat.

" Aku mencintaimu ....kamu mau menjadi pacarku?  maukah kamu menjadi ratu di hatiku selamanya menjadi ibu dari anak-anakku suatu saat nanti? Aku akan selalu mencintaimu, menemani, mendampingimu selamanya." Ucap Galang pelan.

"Ya, aku mau. Dan aku juga mencintaimu...." Jawab Nadine cepat "Nah gampangkan? ayo katakan segera padanya" ujar Nadine." Sambil melepaskan genggaman tangan Galang pelan.

Akan tetapi dengan cepat Galang meraih tangannya dan menggenggamnya lagi. Sambil menatapnya lekat-lekat.

Dahi Nadine berkerut heran "Kenapa? Kamu nggak pede ya? Cepat katakan langsung padanya."

"Sudah, aku katakan kok...."

"Ehhh, Kapan?" Tanya  Nadine terkejut dan bingung

"Barusan saja.." Galang tersenyum jahil

Nadine berusaha mencerna kata-kata Galang dan dia masih bingung

"Iya, Bunny  barusan sudah aku katakan padanya." Galang menegaskan lagi.

Dan ketika pengertian itu sudah mencapainya. Wajah Nadine berubah menjadi merah padam.

"Kok.?.Lang...Kamu...Aku...." gagap dan terpatah-patah Nadine tak mampu berkata-kata. Sambil menatap horror pada Galang. Mulutnya megap-megap persis ikan kekurangan air.

"Ss... sejak kapan?"

"Aku baru menyadarinya ketika melihat kau bersama Aldo , dan begitu aku sadar aku mencintaimu, aku takut.. takut kalau kau tiba benci dan memutuskan persahabatan kita. Dan aku sedikit menjauh darimu untuk memastikan hatiku. Tapi kemudian aku sadar bahwa kau adalah wanita yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku selamanya.".

Galang mengangkat dagu Nadine yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya.

Dan betapa terkejutnya dia ketika dia melihat air mata yang mengalir di pipi Nadine. "Bunny, maaf, apa aku membuatmu marah? kamu tersinggung karena aku telah melanggar  pertemanan kita?" Galang panic.

Nadine menggeleng pelan dia tak sanggup berkata-kata. Hatinya seakan mau meledak karena bahagia. Sehingga ia hanya bisa menangis kesegukan. Galang heran ternyata Nadine bisa menangis seperti ini juga. Kemudian Galang merengkuh Nadine ke dalam pelukannya mendekapnya di dadanya yang bidang. Tangis Nadine semakin besar dan dia terisak, air matanya membasahi kemeja Galang.

"Kenapa kamu jadi cinta sama aku, Lang?" Tanya Nadine tiba-tiba.

 "Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba saja menyadari  jatuh cinta padamu, tidak tahu bagaimana, dan kenapa, itu terjadi begitu saja." Katanya lembut ditelinga Nadine. "Kamu yang selalu ada bersamaku, yang selalu mendengarkan dan meladeni keegoisanku selama bertahun-tahun. Walau pun kamu menggerutu, tapi tidak pernah marah padaku. Walau pun aku selalu membuatmu sebal dengan kelakuan ku yang sering gonta-ganti wanita.  Tapi kamu tidak pernah menghakimiku kamu selalu ada di dekatku, menerimaku apa adanya"

Hening.

"Nadine, bicaralah katakan sesuatu." Galang tampak risau " Apa kamu juga mencintaiku?" Galang menangkup wajah Nadine dengan kedua tangannya yang besar dan kokoh. Ditatapnya wajah Nadine dengan cinta.

Nadine masih terdiam dan matanya berkaca-kaca lalu menganggukan kepalanya " Ya, aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu dari dulu. Hanya aku tidak mau mengatakan apa pun padamu aku takut kamu akan pergi dariku kalau kamu tahu isi hatiku. Kamu adalah pria bebas yang tidak mau terikat oleh wanita mana pun." Katanya sambil menatap Galang.

Hati Galang terasa mengembang bahagia. Rasa cemas akan jawaban Nadine kini berganti dengan perasaan lega dan terharu. Kebahagiannya membuncah. Pengakuan cinta Nadine terasa begitu indah. Hingga ia takut kalau saja semua ini hanya mimpi belaka.

"Tapi Nad, aku mulai sekarang akan selamanya terikat denganmu, aku tidak akan kemana-mana. Jangan khawatirkan itu." Lalu bagaimana kalau kita menikah saja? Mau kan Nad?" Oh...sebentar ya ini untukmu." Galang mengeluarkan kotak kecil berbentuk segi empat dari sakunya "Bukalah, oleh-oleh yang kamu minta waktu itu."

Nadine membukanya perlahan, dan dia takjub ada seuntai kalung cantik berbandul seekor kelinci yang di lapisi batu berlian di sekelilingnya. Dia sangat senang.

"Ini hadiah lamaranku untukmu, Kamu suka? Aku melihatnya di toko perhiasan waktu itu aku langsung teringat kamu." Katanya sambil memutar tubuh Nadine memunggunginya  memakaikan kalung itu di leher putihnya. Lalu Galang memeluk tubuh Nadine dan melingkarkan kedua lengannya di pinggangnya. "Jadi Nad, apa jawabanmu?" Galang bertanya kembali sambil meletakkan dagunya  di pundak Nadine.

Nadine kembali menghadap Galang dan menatap ke dalam matanya. Dan dia melihat kesungguhan hati Galang di sana. Perlahan Nadine menganggukan kepalanya tanda setuju.

Dan Galang merasa bahagia mendapat jawaban dari Nadine. Dia segera memeluk erat tubuh Nadine,   merasakan dadanya berdebar kencang dan getar halus merayapi hatinya. Dia mencium dahi Nadine lembut.

"Our Laugh, your yelling, your talks, your crying, your care, your love is my drug. If would have got you, its like a dream come true.... I love you Nadine."

"I love you more.. Lang."

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<


Masih banyak lubang2nya cerita ini hehhehe maaff ya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.