Minggu, 03 April 2016

My Lovely Housemate Prolog




Prolog
HOUSEMATE WANTED!
DISEWAKAN KAMAR DENGAN FASILITAS LENGKAP KHUSUS UNTUK PENYEWA WANITA
HARGA BISA NEGO. LOKASI STRATEGIS.
HUBUNGI VERA BAGIAN ADMINISTRASI DAN KEUANGAN
PHONE :08137546 XXXX
Vera Dhamayanti
Begitulah tulisan pengumuman yang dibuat Vera di kantornya, dan akhirnya mendapatkan penyewa diluar dugaan. 
Kemudian dengan sangat terpaksa Vera harus tinggal serumah dengan pria musuh satu-satunya di kantor. Yang sudah terkenal dengan julukan Pria paling brengsek dan playboy sedunia. Pria itu bernama Putra Mahasim Tamam.  Semua ini bermula saat Vera menyewakan satu kamar kosong di rumahnya yang merupakan kamar kakaknya yang sedang pindah tugas kerja ke luar negeri. 
Dimana menurutnya terlalu sayang apabila kamar tersebut dibiarkan kosong tanpa penghuni. Lagi pula dia bisa mendapatkan uang  dari menyewakannya. Vera adalah sosok seorang gadis yang sangat mencintai uang,  hingga tidak akan melewatkan kesempatan bagus ini.
"Aku bisa mencium bau uang! Harummmm... come to mama!"
Putra Mahisa Tamam.
Sementara Putra Mahisa Taman membutuhkan tempat tinggal secara mendadak, dikarenakan apartementnya sedang salam masa renovasi selama tiga bulan.  Steve, sahabatnya yang baru saja menikah tidak bisa diharapkan untuk menampungnya. Sahabatnya yang lain juga sama saja. Dengan sangat terpaksa. Catat! TERPAKSA, dia merendahkan harga diri. Demi  sebuah kamar yang disewakan wanita itu yang diharapkan bisa menampungnya. Seorang wanita paling cerewet, musuh bebuyutannya dan mata duitan, sekaligus satu-satunya yang tidak mempan dengan segala pesona yang dimiliki olehnya. Bagi wanita itu uang lebih menarik dan indah."Damn that women!"
Bagaimanakan mereka berdua akan mengatasi segala perbedaan itu dan bisa berdamai serta akur tinggal dalam satu rumah, dengan sifat keduanya yang bertolak belakang?
Palembang, 3 April 2016
RositaAmalani

Selasa, 20 Mei 2014









Love and Hate Couple Opening…..

Kau tak akan tahu kau akan berakhir bersama siapa….Unknown

Aisa  Syofiah Saputra

Hanya karena kebencian pada sang mantan yang berselingkuh .Di dalam hatinya tercatat dengan tinta hitam tebal yang berisikan pandangannya buruknya kepada semua lelaki. Hanya satu kata Mata keranjang! Tukang selingkuh. Kata setia ditaruh diujung lidah tanpa ada bukti.Dan dia bertemu dengan seorang lelaki yang benar-benar pas dengan criteria lelaki yang masuk daftar diblacklistnya .Aku tidak akan menyukainya.Harus menjauh jangan dekat-dekat. Dia berharap tidak akan bertemu lagi,namun nasib berkata lain kepadanya….


Fahmi Ammar Wijaya

Seorang playboy prinsipnya “Perempuan yang datang aku terima, Perempuan yang pergi tidak akan kukejar” Jadi sama-sama tidak ada yang rugi kan?Tetapi perempuan yang satu ini membencinya sampai ke ubun-ubun seakan-akan dia memiliki penyakit menular yang perlu di karantina.Gadis barbar yang telah menganiayanya sampai membuat kakinya bengkak dan meninggalkan bekas permanen,hanya karena ia mencoba bersikap ramah kepada gadis itu.Pertemuan kembali tanpa sengaja membuat dia dan perempuan itu semakin sering terlibat cekcok sampai akhirnya……Oh nasib pintar sekali kau mempermainkanku!

Kamis, 27 Februari 2014



 Frozen

Afina Maharani

Kita berdiri berhadap - hadapan, kamu menatapku penuh cinta dan rindu. Tapi aku tidak lagi merasakan hal yang sama padamu, hatiku sudah membeku dan mati untukmu, di  malam dingin beku itu kamu menyuruhku pergi selamanya menjauh dari hidupmu. Kamu yang dulu mengatakan akan selalu menjagaku dan mencintaiku akan tetapi ternyata kamu tidak mempercayaiku dan mudah sekali goyah.

Aku menyingkir dengan sisa harga diri yang masih aku pegang erat-erat.

Aku bertahan karena aku memiliki sesuatu berharga, yang tidak akan aku mengizinkan kamu mengambilnya juga dariku.

Sekarang kau memohon lagi, menangis padaku, apa kamu sudah lupa itulah  yang dulu pernah  aku lakukan kepadamu, aku pernah meminta, memohon, dan meratap, agar kamu mau percaya padaku. Tapi saat itu kamulah yang telah menghancurkan semuanya . KAMU! Aku membencimu  sekarang. Anggap kita tidak pernah  saling mengenal lagi. Selamanya!

Haris Adni Dinata

Kita berdiri berhadap-hadapan, kamu menatapku penuh benci dan dendam. Aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maafkan aku. Masihkah kamu mencintaiku? Maafkan aku yang telah tidak percaya padamu.

Aku akan menebus semua kesalahanku, meskipun aku harus meratap dan memohon. Walapun harus memakai waktu seumur hidupku. Janganlah membenciku, jangan mengatakan tidak mengenalku. Kamu milikku! Selamanya!

 I'm So Sorry, Nadine


Galang berjalan cepat menuju pintu keluar lobby apartementnya, tak dihiraukannya panggilan Nadine di belakang. Hatinya sedang panas dan cemburu berat, pokoknya dia harus pergi dari sini dulu. Secepatnya.

"Galang! Tunggu aku, dengerin penjelasanku dulu jangan marah begitu, Galang!" teriak Nadine kemudian. Nadine berlari kecil tak dihiraukannya pandangan mata orang-orang yang melihat mereka berdua bertengkar. Akhirnya Nadine sampai juga menyusul Galang dengan napas terengah dia menarik lengan Galang dan memutar tubuhnya  untuk menghadapnya. Galang menatapnya penuh amarah.
"Apalagi yang mau di jelaskan, HA! aku lihat sendiri kamu pelukan dengan Aldo di depan pintu Apartementmu tadi, aku belum buta aku masih melihat dengan jelas kalian berdua!" sembur Galang emosi matanya menatap tajam Nadine. Wajah tampan itu Nampak merah padam menahan emosi.
"Kamu salah paham Lang, Aldo Cuma mengantarku pulang karena aku sakit, aku mau nelpon kamu tapi kamu kayaknya sedang sibuk di kantor , jadi aku nggak mau mengganggumu." Nadine masih berusaha menyakinkan Galang, dia tidak menyangka Galang bisa semarah ini. Kepalanya berdenyut keras dan badannya panas tapi dia menahannya hanya untuk memberikan penjelasan pada Galang. Dia tidak peduli sakitnya lagi.

"Sudah, aku nggak mau dengar apa-apa lagi! Terserah kau saja" katanya sambil mengibaskan tangannya dari cengkeraman tangan Nadine dan masuk ke dalam mobilnya dan menghilang di tikungan.
Nadine menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, air matanya perlahan turun deras. Hatinya sakit ternyata Galang sama sekali tidak mempercayainya penuh dengan curiga.  Nadine mengusap airmatanya cepat dan berjalan gontai kembali ke apartementnya. Lalu dia meihat Aldo berdiri mematung di depan lobby.
"Maaf ya Do, Atas kelakuan Galang tadi. Terima kasih sudah mengantarku." Katanya lesu
"Tidak apa-apa kok, kamu masuk saja istirahat dan minum obatnya ya, aku pulang dulu." Aldo tersenyum lembut. Nadine mengangguk dan berjalan menuju lift.
 Aldo yang memperhatikan kedua orang itu dari tadi hanya bisa geleng kepala tapi ada senangnya sedikit melihat Galang dan Nadine bertengkar heboh seperti itu. Jadi ia ada kesempatan mendekati Nadine lagi soalnya dia sudah lama menyukai gadis itu, tapi tampaknya Nadine mencintai Galang yang notabenenya sahabat Nadine dari kecil. Tapi ia tidak tega melihat Nadine menderita seperti itu, "dasar Galang berengsek aku rebut Nadine baru tahu rasa dia,"umpat Aldo dalam hati

Nadine membanting tubuhnya di tempat tidur, dia menumpahkan tangisnya di atas bantal. Menangis sepuasnya. Tak di hiraukannya obat sakit kepala dan demam yang dia beli tadi di apotik, pikirannya hanya tertuju pada Galang. Dia tak mengira Galang akan semarah itu padanya, selama ini Galang tidak pernah marah kepadanya, dia selalu lembut dan sayang padanya. Kenapa hanya kejadian tadi marahnya sampai mengerikan seperti itu. Padahal mereka sudah bertunangan harusnya Galang lebih percaya padanya. Bukankah kalau mengingat reputasi Galang yang playboy itu harusnya dia yang pantas di cemburui bukannya Nadine. Ini malah kebalik, Nadine menghela napas resah. Dia tahu Galang cemburu tapi setidaknya dia mendengarkan penjelasannya dulu, Nadine menghela napas panjang.
Kemudian Nadine bangkit menuju dapur mengambil air putih buat minum obatnya, setelah itu ia mengganti bajunya dengan piyama yang nyaman dan merebahkan diri lagi di tempat tidur, mencoba memejamkan mata istirahat. Nampaknya obat itu bekerja sangat baik Nadine akhirnya tertidur pulas di tambah dia capek habis menangis tadi.
Esok paginya Nadine terbangun masih merasakan badannya panas, lebih baik ia menelpon kantor ijin tidak masuk dulu. Kemudian Nadine meraih ponselnya dan melihat layarnya, sama sekali tak ada pesan atau telepon dari Galang. Nadine menarik napas panjang, Yah sudahlah tampaknya Galang masih marah pikirnya lalu dia menelepon atasannya untuk ijin sakit hari ini, setelah memperoleh ijin, dia berencana akan istirahat saja tidak akan kemana-mana harus cepat sembuh. Nadine keluar sebentar melihat apartemen Galang, dan menekan tombol code password apartemen Galang dan melongok  kedalam memperhatikan ruang itu. Gelap. Tampaknya Galang tidak pulang semalam. Hati Nadine kecewa sekali pada laki-laki itu.
"Tidak telpon, tidak pulang, apa maunya dia. Rutuk Nadine kesal. Ah sudahlah lebih baik aku tidur lagi saja.


Galang tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, pikirannya di penuhi oleh kejadian dua hari lalu , ada rasa menyesal karena telah bersikap kasar pada Nadine, seharusnya dia mendengarkan penjelasan Nadine dulu bukan main pergi begitu saja. Sudah dua hari ini dia menginap di rumah ayahnya, dia tidak sanggup bertemu dengan Nadine dulu. Tiba-tiba seseorang menerobos masuk ruanganya, dan ternyata orang itu Aldo.
"Maaf Pak Galang, saya sudah mencoba menahan orang ini tapi dia memaksa masuk." Sekretarisnya memandangnya panic.
"Sudah, tidak apa-apa biarkan saja, kamu boleh keluar," Ujar Galang
"Aku mau bicara," Aldo memandang Galang sengit.
"Bicara soal apa?" Galang menatap tajam Aldo
"Aku mau meminta Nadine darimu, aku ingin kau putuskan pertunangan kalian!" Aldo berkata lantang.
"Kau?!.." Apa maksudmu?!" Galang sontak  berdiri dari kursi kerjanya dan memutari meja kerjanya lalu berdiri berhadapan dengan Aldo.
"Kau mengerti maksudku kan?." Aldo tertawa sinis.
"Kau!... beraninya kau?!" Galang menyambar kerah baju Aldo "Jangan coba-coba menggangguku dengan Nadine, tau sendiri akibatnya." Galang mendesis marah.
Tapi nampaknya Aldo tak peduli "Kan kau sendiri yang membuang Nadine, kalau kau tak mau lagi dengan dia, aku bersedia menerima Nadine, toh tidak sulit membuat Nadine melupakanmu. Lagipula kami sekantor bisa bertemu tiap hari, jadi kesempatanku untuk merebut Nadine lebih besar." Kata Aldo tersenyum licik
"Jangan mimpi kau!" emosi Galang meninggi dia melayangkan pukulan ke wajah Aldo hingga membuat lelaki itu terpental kebelakang dengan bibir pecah. Napas Galang memburu.
Aldo berdiri kembali, darah mengucur dari bibirnya yang terkena tinju Galang. "Harusnya kau tidak membiarkan dia begitu saja, kemana rasa sayangmu sebagai sahabat sekaligus tunangannya. HA! Kau egois hanya memikirkan dirimu sendiri, seharusnya kau dengarkan penjelasannya dulu bukan main tinggal begitu saja, hanya masalah sepele tapi kau bertindak berlebihan." Cerocos Aldo . "Waktu itu aku mengantarkannya pulang," lanjut Aldo lagi. Dia sakit demam parah, ketika sampai di Apartementnya dia hampir pingsan, untung aku berhasil menangkap tubuhnya kalau tidak tentu ia akan sukses mencium lantai, saat itulah  kau melihat kami dengan pandangan hati buta karena cemburu kan?" Aldo tertawa mengejek.
Galang terdiam mencerna kata-kata Aldo. Galang mengakui Aldo benar, dia menyesal telah bertindak kasar tanpa pikir panjang lagi. Harusnya dia tidak marah dan pergi begitu saja, dia mengenal Nadine dari dulu dan tahu Nadine tidak akan mengkhianatinya dan selalu ada untuknya. Galang mengacak-acak rambutnya frustasi.Dia terduduk di Sofa tamunya.
"Nadine sudah dua hari tidak ke kantor, ijin sakit" Suara Aldo melunak " Tadi aku menjenguknya dan tidak tega melihatnya. Dia masih demam aku menawarinya mengantarnya ke dokter tapi Nadine menolak, dia hanya ingin tidur saja katanya,Wajahnya pucat tanpa gairah hidup, kau yang membuatnya seperti itu, sudah sakit demam ditambah sakit hati oleh kamu makin parah malah ." Aldo menyalahkan Galang. Dia sengaja melebih-lebihkan
Galang tersentak dia segera menyambar kunci mobilnya dan menghambur keluar ruang kerjanya, tanpa memperdulikan keberadaan Aldo di sana. Galang mencoba menghubungi ponsel Nadine tapi tidak diangkat, dicobanya lagi masih tetap sama. Galang panic dia menekan tombol lift dengan tidak sabar. Hatinya berdebar resah apa mungkin Nadine sudah berbalik membencinya sehingga telepon darinya tidak diangkat. Rasa cemas mulai menyapanya. Nadine...


Nadine terbangun dari tidurnya matanya terasa berat untuk dibuka,  dan melirik jam di dinding kamarnya pukul tiga sore, nampaknya dia sudah terlalu lama tidur. Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya, dan Astaga! Nadine hampir melompat kaget melihat sosok yang duduk di kursi meja riasnya sedang menatapnya penuh kerinduan.
"Galang! Apa aku bermimpi, Nadine mengucek-ucek matanya untuk memastikan ia tidak salah lihat. Ternyata benar itu Galang!
"Nadine.." suara Galang tertahan terdengar ingin menangis.
"Galang? Apa yang kau lakukan di kamarku? Kapan kau datang?" Tanya Nadine bingung dan menatap Galang yang tampak kuyu.
"Baru saja, tapi aku lihat kau masih tidur nyenyak, aku tidak tega membangunkanmu," Ujar Galang pelan, lalu berdiri mendekati Nadine yang masih terdiam dalam posisi duduk di tempat tidurnya. Galang berlutut di hadapan  Nadine meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya, menatap wajah cantik yang pucat itu. Mata Nadine yang bulat bening itu menatapnya bingung.
Galang menarik napas dalam-dalam "Maafkan aku, Nad. Aku sungguh menyesal, Aku bersalah padamu, Aku sudah marah, Aku cemburu buta. Itu karena aku takut kehilanganmu" katanya pelan "Aku sangat mencintaimu." Galang kemudian melepaskan genggaman tangannya langsung memeluk pinggang Nadine,  dan merebahkan kepalanya di pangkuan Nadine. Galang menangis tanpa suara. Menangis di depan Nadine bukanlah hal yang tabu baginya, dulu juga ia pernah menangis seperti ini ketika Ibu kandungnya meninggal dunia.
Nadine hanya diam, air matanya turun perlahan, dia membelai lembut rambut Galang dengan penuh sayang dan cinta. Hatinya trenyuh. "Aku sudah memaafkanmu kok, Lang." jawab Nadine pelan. "Aku... aku tidak marah, ucap Nadine terbata-bata. "Cuma sedih terrnyata kamu tidak percaya padaku."
Galang mengangkat kepalanya dari pangkuan Nadine, lalu menangkup wajah Nadine dengan kedua telapak tangannya yang besar dia mengusap air mata gadis itu dengan kedua ibu jarinya.
"Aku percaya padamu hanya saja saat itu pikiran pendekku lebih dominan. Hei,Jangan menangis lagi  Ah kamu jelek kalau menangis."bujuk Galang karena melihat Nadine masih menangis terisak.
"Kamu juga jelek kalau nangis, tuh."Nadine tertawa geli walau air mata masih menggenang di matanya.
"Jadi kita sama-sama jelek ya kalau nangis," Galang terkekeh.
Akhirnya keduanya tertawa geli. Nadine lupa akan demamnya, tapi nampaknya sudah tidak demam lagi.
Galang kemudian terdiam dan menatap penuh kasih dan kerinduan pada Nadine. Hatinya dipenuhi kelegaan. Sangat lega.
" I miss you.Bunny, " Ujar Galang lembut
"I miss you too, Lang."
Galang tersenyum kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir merah Nadine, sontak Nadine terkejut bukan kepalang, selama ini Galang tidak pernah menciumnya seperti seintim ini , hanya sebatas mencium dahinya.Ini ciuman pertama mereka sejak resmi memutuskan berpacaran dan bertunangan! Nggak percaya kan? hehehe. Ciuman lembut Galang ternyata mampu mengobrak- abrik emosi Nadine.
Seluruh tulang Nadine seakan-akan lenyap begitu saja. Ciuman Galang semakin bergairah dan menuntut. Nadine mencengkeram rambut Galang membalas ciuman lelaki itu, bahkan keduanya tidak menyadari tubuh mereka berdua sudah terbaring di atas ranjang Nadine. Tangan Galang mulai membuka kancing atas piyama Nadine. Tapi kemudian Galang menghentikan ciuman panas dan invasi tangannya dan menempelkan dahinya pada dahi Nadine.
"Bunny." Napas Galang terengah-engah "Besok kamu ambil cuti sekalian ya?" ucap Galang menyeringai licik. Kemudian bangkit dari atas tubuh Nadine dan berdiri.
"Kenapa? Besok aku masuk sudah dua hari aku ijin. " bantah Nadine wajahnya merona merah karena kejadian tadi.
"Besok kita nikah!" jawab Galang tersenyum. "Harus besok!! Aku sudah tidak sabar ingin segera memilikimu. Kamu miliku hanya milikku!" katanya posesif sambil mencium dahi Nadine lembut.
Nadine hanya bisa bengong. Tapi tak mampu menolak ultimatum itu.

                                                             END.

Men hate to cry,
They rarely ever do.
But when a man cries over,
I can guarantee
He loves you.
Because men only cry when
They lose something
Or are afraid of losing
Something
That they love as much or more
Than themselves.

By Anymous

Hehehee lagi mumet ide iseng2 bikin yang satu ini. Geje ya ceritanya wkwkkw
I LOVE YOU,NADINE

Nadine menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berada di ruang tamu apartemennya. Rasa capek pulang lembur sampai malam begini tulang-tulangnya serasa mau lepas. "Mandi dulu, ah." Seraya bangkit dan berjalan gontai. Dengan langkah diseret lesu dia menuju kamar mandi yang ada di kamar tidurnya.

Ting....tong....ting ...tong  
Suara bel yang tak sabar di pintu apartemen Nadine membuatnya  batal ke kamar mandi, lalu memutar tubuhnya menuju pintu.
ting tong....ting...,tong ting...tong
Suara bel makin tidak sabar. Nadine yakin hanya satu orang yang bisa menekan bel tidak sabar seperti itu.
"Ya, tunggu sebentar!"  teriak Nadine kesal.

Dan begitu pintu dibuka, Galang sahabat sejak kecilnya  berdiri tegak menjulang di depan pintunya, wajah tampannya tersenyum gembira, kedua tangannya direntangkan lebar dan langsung memeluk Nadine erat.
"Bunny, aku pulang, aku kangen kamu."  langsung memeluk Nadine erat-erat sampai  Nadine hampir kehabisan napas.

"Lepasin Lang!, aku nggak bisa napas ishhh," protes Nadine kesal sambil berusaha melepaskan tangan besar Galang yang memeluknya . "Kapan kamu pulang dari Malaysia? Kok nggak kasih kabar ke aku?" katanya sewot. Sudah hampir sebulan Nathan bertugas di Malaysia memantau cabang perusahaan milik keluarganya.

"Aku sengaja kasih kejutan ke kamu Bunny," sahut Galang sambil mengacak-acak rambut Nadine. "Kamu kangen sama aku ya?" senyum jahilnya mengembang manis. Bunny adalah panggilan sayang Galang pada Nadine, karena  Nadine sangat menggemari segala sesuatu berbentuk kelinci. Kalau ditanya alasannya jawabnya hanya 'Lucu' katanya.

"Ya, aku kangen," katanya

"Ah, beneran kamu kangen sama aku, Nad," mata Galang nampak berbinar gembira

"Ya, kangenlah, sama...." Nadine terdiam seperti berpikir "Oleh-oleh dari Malaysia, mana oleh-olehnya," ujar Nadine sambil menadahkan tangannya.

"Waduhh," kata Galang sambil menepuk dahinya, ketinggalan di mobil ada di dalam koper nanti aja ya males turun kebawahnya." Jawabnya sambil memamerkan senyum sejuta voltnya.

"Terus ngapain kamu kemari malam-malam?"

 "Ishhh judes amat sih sama sahabat sendiri, Aku lapar buatin makanan dong, Nad," rengek Galang  manja.

"Buat sendiri, aku capek mau mandi terus tidur."

"Yah, kok gitu sih, aku kangen sama masakan kamu, Bunny." Katanya sambil menarik lengan Nadine. "Kamu tega sama sahabatmu yang tercinta  yang  tampan sedunia tiada tandingan ini? aku kelaparan sejak dari bandara tadi."

Nadine paling sebal sama kelakuan narsis Galang yang satu ini tidak ada yang menyamainya sama sekali.

"Lang, apartemenmu kan ada di sebelah pulang aja sekalian, terus pesan DO kan beres," ujar Nadine seperti menasehati anak kecil. "Sudahlah, kalau kamu mau itu ada spageti dengan saus instannya kamu buat sendiri aja, aku mau mandi!" ujar Nadine akhirnya mengalah, lalu  berjalan menuju ke kamarnya.

Galang tersenyum jahil "Bunny, pastiin kamar mandi kamu dikunci ya, kalo nggak ntar aku ikut mandi  lho, kebetulan aku sudah gerah banget!" teriak Galang  dari dapur.  

"Awas kalo berani, aku lempar pakai sandal kamu ntar! Dasar mesum! "ancam Nadine sambil mengacungkan sandal kamarnya.

"Hahahha., galak bener ntar nggak ada cowok yang mau sama kamu lho," godanya Galang.

"Biarin!"

Galang  tersenyum geli, Nadine adalah sahabatnya paling dekat tomboy dan tidak suka dandan seperti gadis-gadis lain. Padahal dia cantik matanya besar, dihiasi bulu mata yang lentik, cocok dengan wajahnya yang bulat telur, hidungnya mancung dan juga kulitnya yang putih bersih. Namun, itulah kecantikannya asli bukan karena riasan tebal seperti wanita-wanita kebanyakan. Tapi sepertinya Nadine sama sekali tidak menyadari kecantikannya sendiri.

Setelah mandi Nadine dan merasa segar lalu dia menuju dapur dan melihat di atas meja makan sudah tersedia spaghetti yang sudah jadi berserta dua buah piring lengkap dengan susu coklatnya.

"Ayo makan, Nad," ajak Galang sambil menaruh spagethi ke piring Nadine

Dan akhirnya mereka makan berdua dengan lahap ternyata keduanya kelaparan.

Tak lama kemudian mereka berdua sudah duduk di atas sofa sambil minum susu coklat dan menonton film di TV. Kemudian Galang merasa mengantuk dan dia meletakkan kepalanya di atas pangkuan Nadine dan memiringkan tubuhnya, seperti biasa yang dia lakukan sejak dulu, tak ada rasa canggung dan sungkan lagi di antara mereka berdua. Nadine hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan Galang yang tidak pernah berubah sama sekali.

Entah mereka ini bisa disebut apa ya? Sahabat yang sangat dekat? Mungkin. Sampai bisa membuat pacar-pacar Galang dulu cemburu melihat kedekatan mereka. Bahkan Galang lebih memilih menemani Nadine  ke toko buku yang menurutnya  membosankan daripada pergi dengan pacarnya dan pergi jalan-jalan tidak jelas. Tapi  itu yang sering membuat Nadine  tidak enak hati.

"Lang, gimana kabar Stella pacar kamu sekarang?" tanya Nadine tiba-tiba sambil matanya mengarah ke televisi. Dia pura-pura memperhatikan televisi menunggu jawaban Galang.

"Hmmm.. apa?"  Galang mendongak. "Stella? Oh.. sudah putus." jawab Galang santai.

"Putus lagi?"   Kapan kamu bisa serius sih Lang, sama cewek kok nggak pernah awet sih?"

"Nggak tau, ah kurang sreg aja pokoknya." jawab Galang pelan sambil menguap. Matanya terasa berat.

Nadine hanya menghela napas resah, sebenarnya dia sedikit senang dan lega kalau Nathan putus dari pacar-pacarnya. Soalnya dari pengamatan Nadine semua pacar-pacar Galang bisa dikatakan... (sekarang mantan pacarnya) itu, termasuk jenis cewek-cewek cantik dan berkilau, tapi mereka satu tipe matre dan gila belanja. Yah, bagi Galang uang bukan masalah. Dia anak orang kaya, anak tunggal lagi. Dan sebentar lagi dia akan menggantikan sang ayah memimpin perusahaan. Kurang lengkap apa coba? pikir Nadine geli

Tapi ada suatu rahasia di hati Nadine yang tidak akan dia katakanya pada siapa pun itu. Rahasia mengenai isi hatinya pada Galang. Walau tak pernah diucapkan, Nadine mencintai Galang sejak dulu, dari masa sekolah hingga sekarang. Rasa takut merusak persahabatan merekalah yang membuat Nadine menyimpan rasa cinta itu diam-diam. Persahabatan lebih penting dari cinta itu prinsipnya.

 Nadine kembali menarik napas panjang Tak lama kemudian, Nadine melihat Galang sudah tertidur dengan damai di pangkuannya. Dia kemudian berdiri dan  sebelumnya menaruh kepala Nathan di bantal kursi  pelan-pelan supaya Nathan tidak terbangun dan mengambil selimut dan menyelimuti Galang . " Biarlah malam ini Galang tidur di sini, dia keliatan capek sekali. pikir Nadine. Setelah mematikan televisi dan lampu di ruang tamu, Nadine pun beranjak menuju kamarnya dan tidur.



*******************






Paginya Nadine terbangun agak siang. Karena hari libur dia bisa agak sedikit santai, dan perutnya terasa lapar. Kemudian dia ke dapur  dan melihat ada roti panggang lengkap beserta daging asap dan susu ada di atas meja dapur ada notenya dari Galang. " Bunny, aku buatkan sarapan makan ya, aku pulang dulu ada janji sama teman." Love Galang
"Huh, pasti cewek nih." pikir Nadine geli sambil menyesap minumannya.

 Nadine lalu menuju beranda apartemennya yang terletak di lantai sepuluh dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia memikir rencana hari ini apa yang akan dilakukannya mumpung hari libur. Dia tadi mau mengajak Galang nonton  sepertinya kalah cepat dengan orang lain. Nadine menghela napas berat. Nampaknya hari libur ini dia habiskan di apartemen saja, sambil menonton DVD kesukaannya. "Ah, mandi dulu, deh."

 Tell them I was happy
 And my heart is broken
 Tell them what I hope would be
 Impossible impossible
 Impossible impossible
 Lagu Impossible-nya James Arthur berbunyi nyaring dari ponsel Nadine.
 Dia melihat ID caller-nya "Mama? Ada apa tumben." pikirnya

"Halo Ma? Ada apa tumben nelpon Nad pagi-pagi gini?"
 "Ini sudah siang Nadine! Anak gadis kok bangun siang berat jodoh lho nanti." mamanya langsung membombardirnya dengan nasehat ala nenek-nenek
 "Ihh Mama, Nadine capek pulang lembur, wajar dong bangun siang mana libur lagi." sahut Nadine sewot.
 Oh sudah kalau gitu, Oya,Mama bisa minta tolong nggak? Mama mau kamu beliin cake yang pernah kamu bawa ke rumah waktu itu, cakenya enak banget." sahut Mamanya Nadine dari seberang telepon.
  Cake? Nadine coba mengingatnya. Oh... Orange Cake yang itu, oke nanti Nad beliin Ma sekalian Nadine  mau main kerumah nanti."
 "Okey sayang, Mama tunggu ya."
 Tak lama kemudian Nadine sudah berada di toke kue favoritnya yang terletak di tengah-tengah sebuah mall yang terletak tak jauh dari apartemen-nya. Sambil menunggu cakenya dibungkus mata, Nadine menjelajah ke sekitarnya. Tiba-tiba matanya menangkap sosok Galang yang berada di Café seberang toko kue tempat Nadine berada. Galang terlihat sedang mengobrol sambil tertawa bersama seorang wanita cantik dan modis, menurutnya beda sekali dandanannya  denganku pikir Nadine sedih sambil menunduk melihat pakaiannya yang berbeda jauh dengan gadis itu, jeans dan T-shirt. Yah, bukan pakaian yang cocok dan modis  dengan gadis seumurannya.  Cemburu mulai terasa merayapi dihatinya. Nadine menarik napas panjang. Dan memalingkan wajahnya ke tempat lain.

"Maaf Mbak, ini pesanannya sudah selesai." Pelayan toko kue itu memecah lamunannya.

"Oh sudah ya, makasih mbak."

"Sama-sama,."sahut pelayan itu sambil tersenyum.
 Lalu Nadine keluar dari toko kue tersebut dan berjalan cepat melewati depan Café tempat Galang berkencan, dia sengaja pura-pura tidak melihat, dia malas bertemu Galang dengan perasaan cemburu semakin membuatnya sakit hati. Nadine mempercepat langkahnya menuju pintu keluar dan tiba-tiba seseorang memanggilnya dan Nadine menoleh dan melihat Aldo teman kantornya berlari kecil mengejarnya..

"Nad.." Hai tumben ketemu disini kita. Mau kemana?"

"Pulang, terus mau ke rumah mamaku. Aku habis beli cake pesanannya," sahutnya sambil menunjukan bungkusan kuenya.
 "Ooh, lalu naik apa kemari? Kamu jalan kaki, kan? Mengingat apartemenmu dekat sini. Aku antar ya?" cerocos Aldo menawarkan diri untuk mengantarnya.
 "Eh.. tumben nih kamu sendirian kan? Nggak sama pacarmu, kan?" mata Nadine menyipit curiga
 Aldo tertawa geli "Nggak lah, aku belum punya pacar kok." Ini  aku lagi cari buku kebetulan mau pulang juga, tiba-tiba lihat, kamu langsung aja aku datengin. Jadi aku antar ya?" katanya setengah memaksa.

Nadine nampak sejenak berpikir. Tidak ada salahnya kan Aldo mengantarnya,  "Oke, makasih ya sekalian hemat ongkos taksi nih." Aldo pun tertawa terbahak lalu dia meraih bungkusan cake di tangan Nadine "Sini belanjaanmu aku bawakan." kata Aldo. "Lewat sini." Aldo membimbing Nadine  menuju parkiran mobil.

 Dan mereka pun berjalan beriringan sambil tertawa-tawa. Tanpa di sadari Nadine seseorang di belakang mereka  memperhatikan dengan pandangan marah dan geram.

********

Galang sedang asyik mengobrol dengan teman kencannya yang teranyar, Galang memang tidak pernah kehabisan stok cewek buat di ajak kencan dan rata-rata semua tidak pernah ada yang menolak dirinya. Seperti hari ini dia ada kencan dengan wanita yang dikenalnya di bandara ketika baru pulang dari Malaysia. Lumayan cantik, dan seksi. Galang tersenyum dalam hati. Entah sudah berapa banyak mantan-mantannya bertebaran di mana-mana. Tidak ada yang cocok di hatinya semua sama saja, hoby belanja dan ke butik pakaian mahal.. Dan menganggapnya   pohon uang yang bisa diporotin seenaknya. Cihhh dasar cewek! Pikirnya sinis. Yah Galang juga tidak pernah serius pacaran. Tapi jangan salah Galang berprinsip pacaran sehat alias No Sex Before Married. Dia menentang keras gaya hidup bebas. Yah kalau sekedar ciuman dan grepe-grepe mungkin nggak apa-apa ya hehhehehe

Tiba-tiba, dia ingat Nadine sahabat tersayangnya dari masa sekolah, sampai sekarang. Ayah mereka berdua bersahabat dekat jadi sejak masih anak-anak mereka sudah dipertemukan. Nadine selalu bersamanya  saat sedih maupun senang ketika kematian Mamanya Galang, waktu dia menginjak masa SMA. Nadine selalu menghiburnya dengan tulus, mendengarkan keluh kesahnya tentang apa saja,  Nadine selalu menjadi pendengar yang baik. Bisa dikatakan Nadine sudah seperti kakak walaupun umur mereka sama, juga seperti adik baginya karena Nadine biar umurnya sudah 24 tahun tapi masih  seperti anak kecil manja dan  hoby baca komiknya tidak pernah hilang, koleksi boneka kelinci adalah favoritnya. Sehingga kamarnya penuh dengan boneka kelinci sampai sebagian harus diungsikan ke rumah orangtuanya. Galang tersenyum geli.

"Galang...? Hei kok ngelamun kamu nggak dengerin aku ngomong ya?" rajuk Cheryl nama cewek teman kencannya terbaru sekarang ini.
 "Eh..?Apa...nggak aku dengar kok." Sahut Galang terkejut.               
 "Dari tadi kamu bengong aja, mikirin apa sih? Cewek ya?"
 Ah..bukan kok, hanya masalah pekerjaan." Jawab Galang enggan
 "Kalau lagi sama aku, jangan mikirin yang lain dong, aku jadi di cuekin."kata Cheryl manja sambil mengelus lembut lengan Galang
 "Oke, nggak lagi kok maaf ya." jawabnya sambil tersenyum.

 Tiba-tiba mata Galang tanpa sengaja melihat keluar café melalui jendela kaca besar café dan dia melihat... Nadine!. Sedang apa dia disini? Dengan siapa ya? Galang segera bangkit dan mengejar Nadine dari belakang tanpa mempedulikan panggilan Cheryl. Dia sedikit kehilangan jejak. Ah, itu dia pikir Galang.Tapi baru saja ia akan mengangkat tangan dan memanggil Nadine dan dia melihat ada seorang pria yang seusia Galang.  berdiri di sebelah Nadine dan mereka sedang tertawa gembira sambil berjalan beriringan menuju keluar pintu mall menuju ke tempat parkiran mobil. Sebelah tangan pria itu memegang lengan Nadine dan membimbingnya. Tangan Galang yang tadi terangkat karena hendak menyapa Nadine langsung terasa kaku, dan dengan perlahan turun. Dia bertanya-tanya dalam hati. Siapa pria itu? Pacar Nadine kah? Kok aku nggak tau? Banyak sekali pertanyaan di benak Galang.

Tapi ada sesuatu di hatinya yang terasa panas dan merasa dirinya marah, napasnya seperti sesak hatinya seakan diremas ia tidak suka Nadine dekat dengan pria itu. Galang tidak suka!



Pukul lima sore  Nadine pulang ke apartemennya masih diantar Aldo

"Makasih, Do sudah repot-repot nganterin aku ya." Dan maaf tadi Mamaku reseh ." katanya tertawa. Aldo tersenyum.  Dan Nadine segera keluar dari mobil Aldo tapi sebelum dia membuka pintu Aldo sudah membukakan pintu mobil untuknya.

"Makasih ."
 "Sama-sama, Eh Nad lain kali kamu nggak nolak ya kalau aku ajak jalan kemana gitu?" Aldo tersenyum lembut.
 Kening Nadine berkerut bingung.
 "Dengan senang hati. Telepon aku saja kalo mau ngajak jalan ya."
 "Tentu saja." Aldo tertawa

 "Ehemm. Ehemm."

Suara deheman seseorang mengejutkan Nadine dan dia melihat Galang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.

"Habis kencan nih?" katanya sambil tersenyum manis.

"Bukan, hanya dari rumah Mama, kebetulan ketemu di Mall tadi ,lalu di mengantarkanku."jawab Nadine

"Ooh.." Galang manggut-manggut lalu mengalihkan pandangannya kepada Aldo, meneliti dari atas ke bawah memandangnya dengan pandangan menyelidik. Aldo juga melakukan hal yang sama. Dua lelaki yang saling menilai.

Kemudian Aldo mengulurkan tangan mengajak  Galang bersalaman  "Hai, kenalkan aku Aldo, teman sekantor Nadine." katanya sambil senyum.

"Aku Galang. SAHABAT dari kecil Nadine." sahutnya menyambut jabat tangan Aldo. Sengaja ia menekankan kata SAHABAT untuk menegaskan bahwa Nadine sudah punya sahabat dekat jadi dia tidak butuh sahabat baru  lagi. Cihhhh dia pikir bisa mengambil Nadine dariku.

"Aku pulang dulu ya Nad, Sampai besok." Pamit Aldo sebelum menghilang masuk kedalam mobilnya dan pergi.



Nadine yang dari  tadi memperhatikan tingkah Galang merasa heran ada apa dengan Galang, yang seakan-akan memasang bendera perang dengan Aldo. Jangan-jangan Galang? Ah Nggak mungkin banget deh. Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba mampir di kepalanya.

"Kamu kenapa Nad, pusing?" tanya Galang yang tiba-tiba memegang dahinya. Wajah Nadine langsung menghangat ketika tangan Galang menyentuhnya.

"Nggak apa-apa." jawabnya jengah sambil menyingkirkan tangan Galang " Terus kamu kenapa tadi dengan Aldo kok seperti tidak suka gitu?"

"Ha..aa itu Galang menggaruk kepalanya serba salah "Nggak ada maksud apa-apa cuma takut kalau-kalau  kamu  dimainin cowok gitu." Dan kelihatannya dia suka kamu." selidik Galang

Kamu tahu dari mana kalau dia suka sama aku?"

"Jadi benar dia suka kamu ya?! "ujar  Galang kaget

"Iya, dan dia sudah pernah bilang sama aku kalau dia suka denganku." Bagus! Nadine berbohong saja terus. Padahal Aldo tidak pernah mengatakan apa pun padanya. Dia hanya ingin melihat reaksi Galang saja. Dan tampaknya tidak pengaruh apa-apa. Nadine menarik napas panjang

Apa kamu perlu bantuanku buat pilihin cowok yang pantas buat kamu?" kata Galang kemudian mengabaikan maksud hati sebenarnya.

"Aku nggak butuh bantuanmu buat milihin cowok ." jawab Nadine tersinggung Aku bisa nilai sendiri."

"Nilai sendiri dari mana? kamu kan tidak punya pengalaman sama sekali dengan pria manapun." Mereka berjalan beriring menuju lift sambil bertengkar.

" Selalu ada yang pertama kan? Suatu saat nanti aku juga pasti akan pacaran terus menikah, dan bakalan cari cowok yang nggak suka main-main sama  cewek seperti kamu." rutuk Nadine sewot

"DEG! Tiba-tiba Galang terdiam dia merasa hatinya di tonjok dan diremas oleh tangan tak terlihat. Iya ya, suatu saat pasti akan terjadi, Nadine akan diambil orang darinya. Galang tidak mau! Tapi apa hakku ya? Aku hanya sahabatnya hanya itu. Bukan pacar Nadine. Ahhhhh... tampaknya aku harus menjernihkan pikiran Galang sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

Nadine bingung dengan perubahan sikap Galang. Kenapa? Apa aku salah ngomong?

Galang masih terdiam. Sibuk dengan hatinya yang tiba-tiba merasa takut Nadine diambil orang. Kenapa? Apa aku menyukai Nadine? Galang makin bingung dengan perasaannya.

Setelah itu Galang tidak berkata-kata lagi walau sudah tiba di depan pintu Apartemennya.

Semenjak hari itu, Nadine tidak melihat Galang lagi. Dia juga tidak main kemari, mau ditelpon kok rasanya aku seperti pacarnya saja. Dan juga Galang tidak menelponnya seperti biasa Ah, sudahlah siapa tahu dia sibuk sekali hingga tidak sempat main kemari, atau dia sibuk dengan pacarnya. Hmm mungkin saja sih.

Ada rasa sesak di dalam rongga dadanya, dia sudah terbiasa bila mendengar suara celoteh  Galang yang ribut, atau rengekan manjanya minta dibuatin makanan, dia kemana ya? pintu apartemennya juga tertutup rapat seakan-akan tidak ada penghuninya.

Dan itu berlangsung selama satu minggu. Pada hari minggu malam ketika sedang asyik melamun di ruang tamu apartemennya. Nadine mendengar bel pintunya berbunyi nyaring ditekan dengan tidak sabar.

Ting....tong....ting..tong

Nadine langsung melompat dari sofanya. Dia sudah bisa menebak siapa yang berada di depan pintu apartemennya.

Dan benar saja! Galang berdiri gagah di hadapannya dengan senyum biasanya yang jahil. Nadine hanya bisa bengong, kerinduan menyeruak dari dalam hatinya. Dia ingin menangis sangking rindunya dengan Galang. Tapi ditahannya sekuat tenaga.

"Lho kamu Lang, dari mana saja kok nggak kelihatan seminggu ini?" katanya heran.

"Kenapa? Kamu cariin aku ya?" tanya Galang sambil melangkah masuk kedalam dan langsung duduk berselonjor di lantai bersandar pada sofa. Dan kemudian Nadine pun duduk di sebelahnya.

"Kamu dari mana Lang?" pasti asyik pacaran ya sampai lupa pulang."

"Tidak dari mana-mana Cuma menghilang sebentar untuk berpikir jernih."

"Tentang apa?"

Tiba-tiba Galang memutar tubuhnya menghadap Nadine dan menatapnya dalam.

"Nadine...tampaknya aku lagi jatuh cinta," Kata Galang tiba-tiba.

Napas Nadine seakan terhenti. Tenggorokannya tercekat. Baru kali ini Galang mengatakan dia jatuh cinta, karena selama ini Galang tidak pernah mengatakan padanya bahwa ia jatuh cinta. Hanya sekedar Having fun dengan wanita-wanita cantik. Tapi tampaknya kali ini Galang serius. Hati Nadine terasa sangat sakit.

Lalu dengan senyum yang dipaksakan dia bertanya "Siapa wanita "beruntung"  itu?"

Galang menatap Nadine dengan seksama dan dia melihat gurat lelah diwajah cantiknya dan tampaknya Nadine tidak tidur nyenyak selama seminggu ini. Apa dia memikirkan aku?

Galang kemudian menjawab pertanyaan Nadine "Dia cantik, lugu, dan polos

"Apa dia temanmu? Kok aku nggak tahu kamu punya teman yang akrab wanita selain aku?" Nadine heran sekaligus cemburu.

"Ya, dia temanku, teman yang sangat baik."

Nadine hampir mau menangis.Masih ditahannya dengan memasang senyum.

"Lalu katakan saja padanya kalau kamu mencintainya."

"Maunya begitu, tapi aku ragu dan malu bagaimana kalau dia menolak dan hanya menganggapku teman biasa." Galang menundukkan pandangannya.

"Eh bagaimana kalau aku berlatih dulu denganmu?" tiba-tiba Galang mendongakkan kepalanya menatap Nadine.

"Haa, berlatih denganku? tanya Nadine bingung

"Iya, mau ya?" bujuk Galang

Nadine berpikir sejenak, lalu mengangguk perlahan. Air matanya hampir jebol.

"Baik, sip" Kemudian Galang menatap Nadine dengan lembut dan penuh binar cinta di matanya lalu menggengam tangan Nadine erat.

" Aku mencintaimu ....kamu mau menjadi pacarku?  maukah kamu menjadi ratu di hatiku selamanya menjadi ibu dari anak-anakku suatu saat nanti? Aku akan selalu mencintaimu, menemani, mendampingimu selamanya." Ucap Galang pelan.

"Ya, aku mau. Dan aku juga mencintaimu...." Jawab Nadine cepat "Nah gampangkan? ayo katakan segera padanya" ujar Nadine." Sambil melepaskan genggaman tangan Galang pelan.

Akan tetapi dengan cepat Galang meraih tangannya dan menggenggamnya lagi. Sambil menatapnya lekat-lekat.

Dahi Nadine berkerut heran "Kenapa? Kamu nggak pede ya? Cepat katakan langsung padanya."

"Sudah, aku katakan kok...."

"Ehhh, Kapan?" Tanya  Nadine terkejut dan bingung

"Barusan saja.." Galang tersenyum jahil

Nadine berusaha mencerna kata-kata Galang dan dia masih bingung

"Iya, Bunny  barusan sudah aku katakan padanya." Galang menegaskan lagi.

Dan ketika pengertian itu sudah mencapainya. Wajah Nadine berubah menjadi merah padam.

"Kok.?.Lang...Kamu...Aku...." gagap dan terpatah-patah Nadine tak mampu berkata-kata. Sambil menatap horror pada Galang. Mulutnya megap-megap persis ikan kekurangan air.

"Ss... sejak kapan?"

"Aku baru menyadarinya ketika melihat kau bersama Aldo , dan begitu aku sadar aku mencintaimu, aku takut.. takut kalau kau tiba benci dan memutuskan persahabatan kita. Dan aku sedikit menjauh darimu untuk memastikan hatiku. Tapi kemudian aku sadar bahwa kau adalah wanita yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku selamanya.".

Galang mengangkat dagu Nadine yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya.

Dan betapa terkejutnya dia ketika dia melihat air mata yang mengalir di pipi Nadine. "Bunny, maaf, apa aku membuatmu marah? kamu tersinggung karena aku telah melanggar  pertemanan kita?" Galang panic.

Nadine menggeleng pelan dia tak sanggup berkata-kata. Hatinya seakan mau meledak karena bahagia. Sehingga ia hanya bisa menangis kesegukan. Galang heran ternyata Nadine bisa menangis seperti ini juga. Kemudian Galang merengkuh Nadine ke dalam pelukannya mendekapnya di dadanya yang bidang. Tangis Nadine semakin besar dan dia terisak, air matanya membasahi kemeja Galang.

"Kenapa kamu jadi cinta sama aku, Lang?" Tanya Nadine tiba-tiba.

 "Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba saja menyadari  jatuh cinta padamu, tidak tahu bagaimana, dan kenapa, itu terjadi begitu saja." Katanya lembut ditelinga Nadine. "Kamu yang selalu ada bersamaku, yang selalu mendengarkan dan meladeni keegoisanku selama bertahun-tahun. Walau pun kamu menggerutu, tapi tidak pernah marah padaku. Walau pun aku selalu membuatmu sebal dengan kelakuan ku yang sering gonta-ganti wanita.  Tapi kamu tidak pernah menghakimiku kamu selalu ada di dekatku, menerimaku apa adanya"

Hening.

"Nadine, bicaralah katakan sesuatu." Galang tampak risau " Apa kamu juga mencintaiku?" Galang menangkup wajah Nadine dengan kedua tangannya yang besar dan kokoh. Ditatapnya wajah Nadine dengan cinta.

Nadine masih terdiam dan matanya berkaca-kaca lalu menganggukan kepalanya " Ya, aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu dari dulu. Hanya aku tidak mau mengatakan apa pun padamu aku takut kamu akan pergi dariku kalau kamu tahu isi hatiku. Kamu adalah pria bebas yang tidak mau terikat oleh wanita mana pun." Katanya sambil menatap Galang.

Hati Galang terasa mengembang bahagia. Rasa cemas akan jawaban Nadine kini berganti dengan perasaan lega dan terharu. Kebahagiannya membuncah. Pengakuan cinta Nadine terasa begitu indah. Hingga ia takut kalau saja semua ini hanya mimpi belaka.

"Tapi Nad, aku mulai sekarang akan selamanya terikat denganmu, aku tidak akan kemana-mana. Jangan khawatirkan itu." Lalu bagaimana kalau kita menikah saja? Mau kan Nad?" Oh...sebentar ya ini untukmu." Galang mengeluarkan kotak kecil berbentuk segi empat dari sakunya "Bukalah, oleh-oleh yang kamu minta waktu itu."

Nadine membukanya perlahan, dan dia takjub ada seuntai kalung cantik berbandul seekor kelinci yang di lapisi batu berlian di sekelilingnya. Dia sangat senang.

"Ini hadiah lamaranku untukmu, Kamu suka? Aku melihatnya di toko perhiasan waktu itu aku langsung teringat kamu." Katanya sambil memutar tubuh Nadine memunggunginya  memakaikan kalung itu di leher putihnya. Lalu Galang memeluk tubuh Nadine dan melingkarkan kedua lengannya di pinggangnya. "Jadi Nad, apa jawabanmu?" Galang bertanya kembali sambil meletakkan dagunya  di pundak Nadine.

Nadine kembali menghadap Galang dan menatap ke dalam matanya. Dan dia melihat kesungguhan hati Galang di sana. Perlahan Nadine menganggukan kepalanya tanda setuju.

Dan Galang merasa bahagia mendapat jawaban dari Nadine. Dia segera memeluk erat tubuh Nadine,   merasakan dadanya berdebar kencang dan getar halus merayapi hatinya. Dia mencium dahi Nadine lembut.

"Our Laugh, your yelling, your talks, your crying, your care, your love is my drug. If would have got you, its like a dream come true.... I love you Nadine."

"I love you more.. Lang."

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<


Masih banyak lubang2nya cerita ini hehhehe maaff ya :D

Selasa, 18 September 2012

My Blog

Selamat pagi my first blog ^^

Pagi hari banyak kabut asap susah nafas nih asapnya itu lho fhuu.Hari ini salam perkenalan dulu besok besok aku pengen tulis novel tapi bingung rancangannya kayak apa,ceritanya udah ada tapi aku mau coba dulu buat hihihi. Aku pingin berbagi apa saja tentang film,drama,anime favoritku yg diatas Colorcloud palace salah satunya ^0^